Selasa, 14 Juli 2020

067-Kiat Meredam Amarah: Doc-1305

 

Masyruch El Basyirah​ 23 Februari 2017 pukul 2:09
Assalamu'alaikum MTTM.
Mohon shar tentang cara menanggulangi amarah
. Sebelum dan sesudahnya dihaturkan terima kasih.
~~~~~~~~~
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
“Bagaimanakah cara menanggulangi amarah?”
Imam al-Ghazali di dalam kitabnya (Ihya’ Ulumuddin) menjelaskan bahwa kiat mengobati marah ketika sedang memuncak adalah dengan ilmu dan amal. Yang dengan ilmu ada 6 yaitu:
1. Mengingat Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keistimewaan meredam amarah, mema’afkan dan bermurah hati, maka ia akan menyukainya
2. Menakuti diri akan siksa Allah seraya berkata “Kekuasaan Allah atas diriku lebih besar daripada kekuasaanku atas orang ini”
3. Memberikan peringatan pada diri sendiri tentang dampak permusuhan dan kebencian dan berusaha melewatinya (permusahan) demi mendapat perbandingannya (saling mengasihi) serta berusaha melebur tujuan menjadikannya sebagai objek (kemarahan) juga menghilangkan perasaan senang atas bencana yang menimpanya (orang yang menyebabkan marah), sedang ia sendiri tidak akan pernah sepi dari musibah. Maka ia akan mengkhawatirkan dirinya sendiri atas dampak amarahnya di dunia kendati ia tidak mampu mengkhawatirkannya di ahirat
4. Berimajinasi tentang buruknya rupa pada saat marah dan mengingat betapa buruk rupanya orang lain yang sedang marah dan membayangkannya pada diri sendiri juga menyerupakannya dengan anjing galak
5. Memikirkan sebab yang melahirkan rasa benci dan menyebabkan kita tidak mampu mengantisipasinya
6. Berusaha meyakini bahwa kemarahannya adalah bentuk kekagumannya atas berlakunya sesuatu sesuai kehendak Allah bukan sesuai kehendaknya. Maka bagaimana mungkin ia berkata “Kehendakku lebih layak dari kehendak Allah” serta meyakini bahwa kemarahan Allah atas dirinya lebih besar daraipada kemarahannya
Adapun kiat dalam perbuatan adalah membaca “A’udzu billahi minasy syaithainir rajim”. Ini diperintahkan oleh Rasulullah pada saat dikuasai amarah.
Itulah diantara tips yang direkomendasikan untuk menanggulangi amarah. والله اعلم
Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik​:
وإنما يعالج الغضب عند هيجانه بمعجون العلم والعمل
أما العلم فهو ستة أمور
الأول أن يتفكر في الأخبار التي سنوردها في فضل كظم الغيظ والعفو والحلم والاحتمال فيرغب في ثوابه..... الى ان قال
الثاني أن يخوف نفسه بعقاب الله وهو أن يقول قدرة الله علي أعظم من قدرتي على هذا الإنسان..... الى ان قال
الثالث أن يحذر نفسه عاقبة العداوة والانتقام وتشمر العدو لمقابلته والسعي في هدم أغراضه والشماتة بمصائبه وهو لا يخلو عن المصائب فيخوف نفسه بعواقب الغضب في الدنيا إن كان لا يخاف من الآخرة..... الى ان قال
الرابع أن يتفكر في قبح صورته عند الغضب بأن يتذكر صورة غيره في حالة الغضب ويتفكر في قبح الغضب في نفسه ومشابهة صاحبه للكلب الضاري..... الى ان قال
الخامس أن يتفكر في السبب الذي يدعوه إلى الانتقام ويمنعه من كظم الغيظ..... الى ان قال
السادس أن يعلم أن غضبه من تعجبه من جريان الشيء على وفق مراد الله لا على وفق مراده فكيف يقول مرادي أولى من مراد الله ويوشك أن يكون غضب الله عليه أعظم من غضبه..... الى ان قال
وأما العمل فأن تقول بلسانك أعوذ بالله من الشيطان الرجيم هكذا أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يقال عند الغيظ
إحياء علوم الدين - (ج 3 / ص 173)

Daftar Pustaka:
1. Ihya’ Ulumuddin. III/ 173
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
3. Al-Ustadz Abdul Malik
4. Al-Ustadz Rofie
5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
7. Al-Ustadz Abdulloh Salam
8. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS:
Al-Ustadz Ibnu Malik​. S.P. d. I
http://taklimtanahmerah.com/konsultasi-agama-2/1369-doc-1305-kiat-meredam-amarah.html

Rabu, 08 Juli 2020

066-kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-26

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-26

Menjalankan  Segala Kewajiban Dan Perintah Allah Dan Menjahui Larangannya.

                          ← بأداء الفرائض واجتناب المحرمات. →       

                            =======Terjemah:======

Hendaknya engkau selalu menjalankan segala kewajiban menjauhi setiap larangan serta memperbanyak ibadah sunnah karena Allah semata. Jika itu semua sudah engkau laksanakan, maka engkau akan mencapai tempat yang paling dekat di sisi Allah dan engkau pun akan diselimuti dengan selubung mahabbah oleh-Nya. Dengan demikian, setiap diam dan gerakmu hanya karena-Nya, inilah selimut para waliyullah dan khalifatullah (perwakilan Allah).

Allah berfirman dalam hadits qudsi :

مَاتَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِىْ بِشَيْئٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّاافْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلَا يَزَالُ عَبْدِىْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَاأَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِىْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُبِهِ وَيَدَهُ الَّتِىْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِىْ بِهَاوَلَئِنْ سَأَلَنِىْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَإِنِ اسْتَعَاذَنِىْ لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَاتَرَدَّدْتُ فِى شَيْئٍ أَنَافَاعِلُهُ تَرَدُّدِىْ فِىْ قَبْضِ نَفْسْ عَبْدِىْ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَاأَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ وَلَا بُدَّلَهُ مِنْهُ.

“Tidaklah seseorang hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu amal yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Kufardhukan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri keapda-Ku dengan amal-amal sunnah hingga akhirnya Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia memegang dengannya, dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya akan Kuberi. Jika ia berlindung kepada-Ku, niscaya akan Kulindungi. Dan Aku tidak pernah ragu dalam sesuatu yang Aku lakukan seperti ragu-Ku dalam mencabut nyawa hamba-Ku yang mukmin. Ia tidak menyukai mati, sedangkan Aku tidak menyukai perbuatan buruknya. Dan bagaimanapun ia harus mati.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah)

Ketahuilah, bahwa engkau tak akan dapat menjalankan ketaatan difardukan Allah, menjauhi kemaksiatan yang diharamkan Allah, apalagi iabdah sunnah yang berfungsi mendekatkan diri kepada Allah, kecuali dengan ilmu. Karena iatu tuntutlah ilmu!

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu itu wajib atas semua orang Islam.” (HR. Baihaqi dari Anas)

Dengan ilmu engkau dapat mengetahui sesuatu yang wajib, sunnah dan haram. Dengan ilmu itu pula engkau mengetahui tata cara melaksanakan kewajiban dan hal yang sunnah, serta mengetahui bagaimana cara menjuhi keharaman.
Karena begitu besar peranan ilmu, maka diwajibkan menuntut dan mengamalkannya. Dengan mengamalkan ilmu engkau dapat memperoleh kesukseksan dunia dan akhirat..

Ketahuilah, orang yang beribadah tanpa ilmu akan menimbulkan bermacam-macam bahaya yang akan menimpa dirinya sendiri, dan bahayanya jauh lebih besar dari manfaatnya. Berapa banyak orang yang bersusah payah dalam beribadah, tetapi tidak mendapatkan pahala karena ibadahnya tidak didasari dengan ilmu. Bahkan ia masih tetap melakukan maksiat, sebab ia menganggap itu adalah perbuatan taat atau bukan maksiat.

Ulama yang makrifatullah, Muhammad bin `Arabiy, dalam Kitabnya Al-Futuhat pada bagian Al-Washaya. Bercerita :

Bahwa ada seorang laki-laki dari Maghrib tekun beribadah, suatu hari ia mambeli keledai betina. Tetapi keledai itu tidak digunakan untuk bekerja dan lain sebagainya. Lalu datanglah seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak menggunakan keledaimu untuk bekerja?”. “Karena aku hanya menggunakannya untuk memelihara kemaluanku”, jawab laki-laki itu.

Sesungguhnya laki-laki itu tidak mengetahui bahwa berhubungan seksual dengan binatang itu haram. Ketika ia mengetahui keharamannnya, ia pun menangais tersedu-sedu. Itulah akibat dari seseorang yang hanya selalu beribadah tanpa didasari ilmu.

Ilmu yang wajib dituntut oleh setiap muslim, yaitu ilmu yang menjelaskan tentang ketentuan yang diwajibkan oleh Allah subhanahu Wata'alaa. dan keharaman yang diharamkan-Nya.

Hendaklah engkau selalu menjalankan kewajiban sesuai dengan tata caranya. Tidak wajib mengetahui sesuatu, kecuali ketika hendak melaksanakan sesuatu tersebut, seperti orang yang akil baligh di bulan Muharram, wajib baginya segera mengetahui makna dua kalimat syahadat seta mengucapkannya. Dan wajib pula mempelajari syarat, rukun dan hukum salat lima waktu.

Wajib bagi orang yang baligh mengetahui kewajiban ainiyah, seperti kewajiban berpuasa, zakat, haji dan lain-lain, serta wajib baginya mengetahui sesuatu yang telah diahramkan oleh syariat, seperti berzina, meminum minuman keras, mengambil harta orang lain dan lain sebagainya.

Tetapi tidak wajib mengetahui tata cara berpuasa dan haji, kecuali ketika sudah datang bulan Ramadhan dan Dzulhijjah. Tidak wajib mengetahui tata cara zakat, kecuali ia memiliki harta yang wajib dizakati, sudah satu nisab, dan telah tiba waktu pengeluarannya.

Haram dan wajib sudah diketahui dengan jelas oleh sebagian kaum muslimin. Tetapi, mengetahui hukumnya jauh lebih penting. Belajar dan menerima hukum tidak sah kecuali belajar dan menerima dari orang alim yang beragama Islam dan bertakwa kepada Allah subhanahuwata'alaa. Orang-orang awam ada kalanya salah dan kadang-kadang benar. Oleh karena itu, jangan kau ikuti mereka. Yang patut engkau jadikan suri tauladan hanyalah ulamaul-amilin, yang keberadaannya sangat langka. Untuk menghasilkan ilmu yang diwajibkan itu umat Islam tak menyita waktu yang lama dan memaksakan diri. Pelajar yang mampu menuntut ilmu cukup duduk dengan orang alim, satu atu dua jam saja, ini sesuai dengan yang diterangkan dalah hadits :

"Seorang Badui mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. yang sedang berpidato di podium, ia memohon agar diberi pelajaran yang telah Allah berikan kepada beliau. Lali beliau turun dari podium untuk mengajarinya, kemudian beliau naik ke podium lagi untuk menyempurnakan pidato beliau.” (Al-Hadits)

Secara keseluruhan, barangsiapa ingin selamat dan sukses, maka wajib baginya untuk mempelajari dan mengajarkan sesuatu sebelum ia mengetahui hukum-hukum Allah, yang wajib, sunnah, mubah dan haram. Karena segala sesuatunya tak dapat dilakukan dari ke empat hukum tersebut, kecuali bila masih diragukan maka dihukumi syubhat.

Secara umum kriteria mukmin terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

1. Mukmin Awam, ialah orang yang amsih sempat meninggalkan kewajiban dan melaksanakan hal-hal haram dan lebih mementingkan hal-hal yang mubah daripada yang sunnah. Mereka sebaiknya bertobat dan beristighfar.

2. Mukmin Khusus, ialah orang yang menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, senang beribadah sunnah dan membatasi diri dari hal-hal yang mubah. Itupun ia jalankan semata-mata hanya sebagai perantara untuk mengerjakan beberapa perintah Alalh dan menjauhi laranga-larangan-Nya.

==============

Refrensi:

ص: -/٣٥ ١/٣٢/٣٣ - كتاب رسالة المعاونة.

(وعليك) بأداء الفرائض واجتناب المحرمات ، والإكثار من النوافل. فإنك إن فعلت ذلك مخلصاً لوجه الله الكريم حصلت على غاية القرب من الله وخلعت عليك خلعة المحبة التي تصير عندها جميع حركاتك وسكناتك لله وبالله، وهي خلعة الولاية بل خلعة الخلافة، وقد أشار إليها رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله فيما يرويه عن ربه تعالى قال: "ما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه ولا يزال
 يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها فبي يسمع وبي يبصر وبي يبطش وبي يمشي ولئن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه وما ترددت في شيء أنا فاعله ترددي في قبض نفس عبدي المؤمن يكره الموت وأنا أكره مساءته ولا بد له من الموت".
فانظر –رحمك الله- إلى ما انطوى عليه هذا الحديث القدسي من الأسرار والمعارف وتأمل ما أومأ إليه من الدقائق واللطائف وما وصل هذا العبد الموفق إلى هذه المرتبة العظيمة التي صار فيها ما يحبه محبوباً لله وما يكرهه مكروهاً عند الله إلا بأداء ما فرضه عليه والإكثار من النوافل ابتغاء الزلفى لديه فالسباق السباق إن كانت لك همة في الوصول إلى مراتب الكمال ورغبة في بلوغ درجات الرجال فقد وضح لك الطريق وبد لك شعاع التحقيق.

(واعلم) أن الله قد جعل فضله ورحمته في النوافل جبراً لما يقع من الخلل في الفرائض. ولكن لا يجبر خلل الفريضة إلا بنفل من نوعها كالصلاة بالصلاة، والصيام بالصيام، والفرض هو الأصل والنفل تابع له، والذي يؤدي الفرائض ويجتنب المحارم ولا يتنفل أحسن حالاً ممن يتعاطى النوافل ويقع في إهمال بعض الفرائض، فإياك أن تعرض عن شيء من الفرائض اشتغالاً بشيء من النوافل فتأثم بترك الفريضة ولا يتقبل الله منك النافلة وتقع في ذلك مثل من يشتغل بتحصيل العلم الذي هو في حقه فضيله ويترك الاشتغال بتحصيل ما هو عليه من العلم فريضة في ظاهره وباطنه، ومن يقعد عن الكسب مع القدرة عليه اشتغالاً بنوافل العبادات ويترك عياله يتكففون الناس فقس على هاتين الصورتين ما عداهما مما في معناهما.

(واعلم) أنك لا تصل إلى القيام بامتثال ما فرض الله عليك من طاعته واجتناب ما حرم الله عليك من معصيته وإلى العمل بما شرع لك من النوافل التي تقربك إليه زلفى إلا بالعلم، فعليك بطلبه فقد قال عليه الصلاة والسلام: "طلب العلم فريضة على كل مسلم".
وبالعلم تعرف كون الواجب واجباً والمندوب مندوباً، والمحرم محرماً، وتعرف كيف تؤدي الواجب وتفعل المندوب وتترك المحرم فإذن لا بد لك من العلم ولا غنى لك عنه، وعليه وعلى اعمل به مدار سعادتك في الدنيا والآخرة.

(واعلم) أن من عبد الله بغير علم كان الضرر العائد عليه بسبب عبادته أكثر من النفع الحاصل له بها، وكم من عابد قد أتعب نفسه في العبادة وهو مع ذلك مصر على معصية يرى أنها طاعة أو أنها غير معصية. وقد حكى الشيخ العارف بالله محمد بن عربي في باب الوصايا من الفتوحات عن رجل من أهل المغرب أنه كان كثير الاجتهاد في العبادة وأنه اشترى أتاناً(1) ولم يستعملها في شيء، فسأله إنسان عن سبب إمساكها، قال: ما أمسكتها إلا لأحصن بها فرجي! وكان لا يعلم تحريم إتيان البهائم، فلما عرفه بتحريمه أشفق وبكى بكاءً شديداً. انتهت الحكاية بمعناها.

والعلم الواجب على كل مسلم هو أن يعلم وجوب جميع الفرائض التي فرضهن الله عليه وتحريم جميع المحرمات التي حرمهن الله عليه. وأما العلم بكيفية فعل الشيء الواجب فلا يجب إلا عند إرادة مباشرته فمن بلغ أو أسلم في شهر المحرم مثلاً كان الواجب عليه فوراً أن يتعلم معنى الشهادتين وينطق بهما، ويتعلم وجوب الصلوات الخمس وما يجب من معرفة أركانها وأحكامها، ومن الواجب عليه أن يعرف وجوب الصوم والزكاة والحج وغيرها من الواجبات العينية ويعرف تحريم الزنى وشرب الخمر وأخذ أموال الناس بالباطل وغيرها من المحرمات الشريعة ولكن لا يجب عليه أن يتعلم كيفية الصيام والحج إلا عند مجيء رمضان وإرادة الحج، ولا كيفية الزكاة إلا حتى يملك 
مالاً يزكى ويجيء وقت إخراج الزكاة والله أعلم.

(1) 1 الأتان: أنثى الحمار


والمحرمات والواجبات العينية معروفة بين المسلمين لا تكاد تخفى وإنما المهم معرفة الأحكام. نعم ول يكفه إلا أن يتلقى جميع ذلك من عالم يخشى الله ويدين بالحق. والعامة تخطئ وتصيب فإياك أن تفعل ما يفعلونه وتترك ما يتركونه اقتداء بهم، فإن الاقتداء لا يصح إلا بالعلماء العاملين، وقد عز اليوم عالم يعمل بعلمه. فإذا رأيت العالم في هذا الزمان يفعل شيئاً أو يتركه مما يجهل كونه حقاً أو باطلاً فلا تكتفي بمجرد رؤيته في الفعل أو الترك حتى تسأله عن وجه ذلك في الشرع وحكمه من الدين، ولا يحتاج المسلم في تحصيل ما هو فرض عليه من العلم إلى طول مدة، ولا يكاد تلحقه مشقة في ذلك لسهولته، ويكفي الطالب الفطن في تعلم ذلك أن يجلس مع العالم المتقن ساعة أو ساعتين من زمان وقد جاء أعرابي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يخطب على منبره فسأله أن يعلمه مما علمه الله فنزل عن منبره فعلمه ثم صعد المنبر فأتم خطبته.
وعلى الجملة فمن أراد أن يسلم ويغنم فعليه أن لا يدخل في شيء ولا يقيم على فعل شيء قد دخل فيه حتى يعلم ما حكم الله في ذلك الشيء من الوجوب أو الندب أو الإباحة أو التحريم فجميع الأشياء لا تخلو عن أحد هذه الأمور الأربعة، والأشبه أن هذا الأمر واجب على كل مسلم.
ثم إن المؤمنين ينقسمون إلى عموم وخصوص، فالعموم قد يقعون في ترك الواجبات وفعل المحرمات، وأحسنهم من يبادر بالتوبة والاستغفار، ولا يحرصون على فعل النوافل وينهمكون في المباحات، وأما الخصوص فيؤدون الواجبات ويتركون المحرمات بكل حال ويحافظون على فعل المندوبات ويقتصرون من المباحات على ما يكون وسيلة إلى القيام بامتثال الأوامر واجتناب النواهي وبالله التوفيق.



Risalatul Muawanah: karya al- Arif billah al-Imam Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad. 1/32/33/35

Minggu, 21 Juni 2020

065-Kajian Kitab Riyadussholihiin Sambungan Bab 14: Berlaku Sedang Dalam Beribadat (Ta'at) 33

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kajian Kitab Riyadussholihiin Edisi-33

Sambungan Bab 14: Berlaku Sedang Dalam Beribadat (Ta'at)

Bismillahirrahmanirrahiim.

 14- باب الاقتصاد في الطاعة

146- وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ دخل النبي صلى الله عليه وسلم المسجد فإذا حبل ممدود بين الساريتين فقال‏:‏ ‏"‏ما هذا الحبل‏"‏ قالوا ‏:‏ هذا حبل لزينب، فإذا فترت تعلقت به‏.‏ فقال النبي صلى الله عليه وسلم ‏"‏ حلوه، ليصل أحدكم نشاطه فإذا فتر فليرقد‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

147- وعن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ إذا نعس أحدكم وهو يصلي، فليرقد حتى يذهب عنه النوم، فإن أحدكم إذا صلى وهو ناعس لا يدري لعله يذهب ويستغفر فيسب نفسه‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

148- وعن أبي عبد الله جابر بن سمرة رضي الله عنهما قال‏:‏ ‏"‏كنت أصلى مع النبي صلى الله عليه وسلم الصلوات، فكانت صلاته قصداً وخطبته قصداً‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

149- وعن أبي جحيفة وهب بن عبد الله رضي الله عنه قال‏:‏ آخى النبي صلى الله عليه وسلم بين سلمان وأبى الدرداء ، فزار سلمان أبا الدرداء، فرأى أم الدرداء متبذلة فقال‏:‏ ما شأنك قالت‏:‏ أخوك أبو الدرداء ليس له حاجة في الدنيا، فجاء أبو الدراداء فصنع له طعاماً، فقال له‏:‏ كل فإنى صائم، قال‏:‏ ما أنا بآكل حتى تأكل، فأكل، فلما كان الليل ذهب أبو الدرداء يقوم فقال له‏:‏ نم، فنام، ثم ذهب يقوم فقال له ‏:‏ نم، فلما كان من آخر الليل قال سلمان‏:‏ قم الآن‏:‏ فصليا جميعاً، فقال له سلمان‏:‏ إن لربك عليك حقاً، وإن لنفسك عليك حقاً، ولأهلك عليك حقاً، فأعط كل ذى حق حقه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له، فقال النبي صلى الله عليه وسلم ‏"‏صدق سلمان‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

Terjemah:

146. Dari Anas radhiyallahu anhu., katanya: "Nabi shallallahu alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, tiba-tiba tampak  di situ ada seutas tali yang memanjang antara dua tiang. Beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya: "Tali  Dua tiang yang dimaksudkan di sini ialah dari beberapa tiang yang ada di masjid. Tujuan utama dalam Hadis ini ialah anjuran yang penting sekali untuk diperhatikan, yakni hendaknya kita melaksanakan agama Islam ini apakah ini?" Orang-orang menjawab: "Ini adalah kepunyaan Zainab, jikalau ia sudah malas lelah bersembahyang, ia menggantung di situ." Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: "Lepaskan sajalah. Baiklah seseorang itu melakukan shalat di waktu ia sedang bersemangat, maka jikalau ia telah merasa malas, baiklah ia tidur saja." (Muttafaq 'alaih)

147. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  "Jikalau seseorang dari engkau semua mengantuk dan ia sedang bersembahyang, maka baiklah ia tidur dulu, sehingga hilanglah kantuk tidurnya. Sebab sesungguhnya seseorang dari engkau semua itu jikalau bersembahyang sedang ia mengantuk, maka ia tidak tahu, barangkali ia memulai memohonkan pengampunan kepada Allah, tetapi ia lalu mencaci maki dirinya sendiri." (Muttafaq 'alaih)

148. Dari Abu Abdillah, yaitu Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya pernah bersembahyang dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam beberapa shalatan, maka keadaan shalat beliau shallallahu alaihi wasallam itu adalah sedang dan khutbahnyapun sedang pula." (Riwayat Muslim)

Ucapan qashdan maksudnya antara panjang dan pendek, yakni sederhana.

149. Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah radiyallahu anhu katanya: "Nabi shallallahu alaihi wasallam mempersaudarakan antara Salman dan Abud-darda' maksudnya keduanya disuruh berjanji
untuk berlaku sebagai saudara." Salman pada suatu ketika berziarah ke Abuddarda', ia melihat Ummud Darda' isteri Abud-darda' mengenakan pakaian yang serba kusut  yakni tidak berhias samasekali, Salman bertanya padanya: "Mengapa saudari berkeadaan sedemikian ini?" Wanita itu menjawab: "Saudaramu yaitu Abud-darda' itu sudah tidak ada hajatnya lagi pada keduniaan maksudnya: Sudah meninggalkan keduniaan, baik terhadap wanita atau lain-lain."
Dalam riwayat Ad-daraquthni lafaz Fiddunyaa, diganti dengan lafaz Fi nisaid dunyaa, artinya tidak ada hajatnya lagi pada kaum wanita di dunia ini. Sementara itu dalam riwayat Ibnu Khuzaimah ditambah pula dengan kata-kata Yashuumun nahaar wa yaquumullail, artinya: Ia berpuasa pada siang harinya dan terus bersembahyang pada malam harinya."  Abud-darda' lalu datang, kemudian ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abud-darda' berkata kepada Salman:  "Makanlah, karena saya berpuasa." Salman menjawab: "Saya tidak akan suka makan, sehingga engkaupun suka pula makan."  Abud-darda' lalu makan. Setelah malam tiba, Abud-darda' mulai bangun. Salman berkata kepadanya: "Tidurlah!" Ia tidur lagi. Tidak lama kemudian bangun lagi dan Salman berkata pula: "Tidurlah!" Kemudian setelah tiba Akhir malam, Salman lalu berkata pada Abuddarda': "Bangunlah sekarang!" Keduanya terus bersembahyang. Selanjutnya Salman lalu berkata: "Sesungguhnya untuk Tuhanmu itu ada hak atas dirimu, untuk dirimu sendiri juga ada hak atasmu, untuk keluargamupun ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak itu akan haknya masing-masing."

jangan melampaui batas, khususnya dalam peribadatan, seperti shalat, puasa dan lain-lain yang termasuk sunnah hukumnya. Jadi kita dilarang mempersangatkan diri sendiri, sehingga membuat kita lelah dan akhirnya malas. Juga terdapat suatu anjuran lain, yakni hendaklah dalam mengerjakannya itu dengan penuh semangat  dan bukan seenaknya saja.
Abuddarda' - paginya - mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian menyebutkan peristiwa semalam itu, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:  "Salman benar ucapannya." (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Dengan berdasarkan Hadis di atas, maka syariat Agama Islam memerintahkan kepada kaum Muslimin agar antara seorang dengan yang lainnya bersikap sebagaimana orang-orang  yang bersaudara dan semata-mata bukan karena ini atau itu, tetapi hanya untuk  mengharapkan keridhaan Tuhan, juga memerintahkan agar saling kunjung-mengunjungi karena Allah, demikian pula bermalam di rumah saudara seagamanya karena Allah pula. Di samping itu syariat membolehkan seseorang lelaki bercakap-cakap dengan wanita lain yang bukan mahramnya yakni ajnabiyah, bilamana betul-betul ada keperluan yang penting untuk berbuat sedemikian itu. Selain itu dalam Hadis itu pula terdapat anjuran yang sungguh-sungguh agar antara seorang muslim dengan muslim lainnya, hendaknya gemar nasihat-menasihati dengan cara yang baik, mengingatkan siapa yang lupa dan lalai melaksanakan perintah Allah dan ada pula anjuran untuk gemar mengerjakan shalat malam (shalatuilail) dan lain-lain lagi.

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Karya: Syaikh Imam An-Nawawi radhiyallahu anhu.


Senin, 15 Juni 2020

064-Kajian Kitab Riyadussholihiin Berlaku Sedang Dalam Beribadat (Ta'at)-32

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kajian Kitab Riyadussholihiin Edisi-32

Bab 14: Berlaku Sedang Dalam Beribadat (Ta'at)

Bismillahirrahmanirrahiim.

 14- باب الاقتصاد في الطاعة

قال الله تعالى‏:‏ ‏{‏طه ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى‏}‏ ‏(‏‏(‏طه‏:‏1‏)‏‏)‏ وقال تعالى‏:‏ ‏{‏يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر‏}‏ ‏(‏‏(‏البقرة ‏:‏ 185‏)‏‏)‏‏.‏

142- وعن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها امرأة قال‏:‏ من هذه‏؟‏ قالت‏:‏ هذه فلانة تذكر من صلاتها قال‏:‏ ‏"‏ مه عليكم بما تطيقون، فوالله لا يمل الله حتى تملوا‏"‏ وكان أحب الدين إليه ما داوم صاحبه عليه‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

143- وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ جاء ثلاثة رهط إلى بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم، يسألون عن عبادة النبي صلى الله عليه وسلم، فلما أخبروا كأنهم تقالوها وقالوا‏:‏ أين نحن من النبي صلى الله عليه وسلم قد غفر الله له تقدم من ذنبه وما تأخر‏.‏ قال أحدهم‏:‏ أما أنا فأصلي الليل أبداً وقال الآخر‏:‏ وأنا أصوم الدهر أبداً ولا أفطر، وقال الآخر‏:‏ وأنا أعتزل النساء فلا أتزوج أبداً، فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم إليهم فقال‏:‏ ‏"‏أنتم الذين قلتم كذا وكذا‏؟‏‏!‏ أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏

144- وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏هلك المتنطعون‏"‏ قالها ثلاثاً ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏

145- عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ إن الدين يسر، ولن يشاد الدين إلا غلبه، فسددوا وقاربوا وأبشروا، واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

وفي رواية له ‏:‏ ‏ ‏سددوا وقاربوا واغدوا وروحوا، وشيء من الدلجة، القصد القصد تبلغوا‏ ‏‏.‏

Terjemah:

Bab 14  Berlaku Sedang Dalam Beribadat

Allah Ta'ala berfirman: "Tidaklah Kami turunkan al-Quran itu padamu hai Muhammad agar engkau mendapat  celaka." (Thaha: 1-2)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Allah menghendaki kemudahan padamu semua dan tidak menghendaki kesukaran untukmu semua." (al-Baqarah: 185)

142. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi shalallahu alahi wasallam memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Beliau shallallahu alaihi wassalam bertanya: "Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si Anu." Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi yang sangat luar biasa tekunnya. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau semua berbuat sesuai dengan kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah itu tidak bosan memberi pahala sehingga engkau semua bosan melaksanakan amalan itu. Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dikekalkan melakukannya oleh orangnya itu yakni tidak perlu banyak-banyak asalkan langsung terus." (Muttafaq 'alaih)

Mah: adalah kata untuk melarang dan mencegah. Maknanya La yamallullahu, ialah Allah tidak bosan, maksudnya bahwa Allah tidak akan memutuskan pahalanya padamu semua atau balasan pada amalan amalanmu itu ataupun memperlakukan engkau semua sebagai perlakuan orang yang sudah bosan. Hatta tamallu artinya sehingga engkau semua yang bosan lebih dulu, lalu amalan itu ditinggalkan. Oleh sebab itu seyogyanya engkau semua mengambil amalan itu sekuat tenagamu saja yang sekiranya akan tetap langsung dan kekal melakukannya agar supaya pahalanya serta keutamaannya tetap atas dirimu semua.

143. Dari Anas radhiyallahu anhu, katanya: Ada tiga macam orang datang ke rumah isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wasallam menanyakan tentang hal bagaimana ibadahnya Nabi shallallahu alaihi wasallam Kemudian setelah mereka diberitahu lalu seolah-olah mereka menganggap amat sedikit saja ibadah beliau shallallahu alaihi wasallam  itu. Mereka lalu berkata: "Ah, di manakah kita ini maksudnya: Kita ini jauh perbedaannya kalau dibandingkan dari Nabi shallallahu alaihi wassalam sedangkan beliau itu telah diampuni segala dosanya yang lampau dan yang kemudian." Seorang dari mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka saya bersembahyang semalam suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata: "Adapun saya, maka saya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya berbuka." Yang seorang lagi berkata: "Adapun saya, maka saya menjauhi para wanita, maka sayapun tidak akan kawin selama-lamanya." Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian mendatangi mereka lalu bersabda: "Engkau semuakah yang mengatakan demikian, demikian? Wahai, demi Allah, sesungguhnya saya ini adalah orang yang tertaqwa di antara engkau semua kepada Allah dan tertakut kepadaNya, tetapi saya juga berpuasa dan juga berbuka, sayapun bersembahyang tetapi juga tidur, juga saya. suka kawin dengan para wanita. Maka barangsiapa yang enggan pada cara perjalananku, maka ia bukanlah termasuk dalam golonganku." (Muttafaq 'alaih)

144. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Binasalah orang-orang yang memperdalam-dalamkan." Beliau shallallahu alaihi wasallam menyabdakan ini sampai tiga kali banyaknya."  (Riwayat Muslim)
Almutanathtbi'un yaitu orang-orang yang memperdalam-dalamkan serta memperkeraskan sesuatu yang bukan pada tempatnya.

145. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdanya: "Agama itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seseorang melainkan agama itu akan mengalahkannya yakni orang yang memperkeras-keraskan itu sendiri yang nantinya akan merasa tidak kuat meneruskannya. Maka dari itu, bersikap luruslah engkau semua, lakukanlah yang sederhana saja-jikalau tidak kuasa melakukan yang sesempurna-sempurnanya, bergembiralah untuk memperoleh pahala, sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan sesuatu amalan itu, baikdi waktu pergi pagi-pagi, sore-sore ataupun sebagian waktu malam."  (Riwayat Bukhari)

Dalam riwayat Imam Bukhari lainnya disebutkan: "Berlaku luruslah, lakukanlah yang sederhana, pergilah di waktu pagi, juga di waktu sore serta sebagian di waktu malam. Berbuatlah sederhana,tentu engkau semua akan sampai pula pada tujuannya."  Addin itu dirafa'kan karena merupakan maf'ulnya fi'il yang tidak disebutkan fa'ilnya.  Ada pula yang mengatakan bahwa itu harus dinashabkan.  Ada yang meriwayatkan dengan lafaz Lan yusyaddad dina ahadun, artinya tidak seorangpun yang hendak memperkeraskan agama tersebut. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Illa ghalalabahu, artinya melainkan agama itu mengalahkannya, yakni bahwa agama tadi mengalahkan orang itu dan dengan sendirinya orang yang memperkeras-keraskan sendiri itu akhirnya akan lemah untuk menghadapi agama tersebut, sebab banyak jalan yang perlu ditempuhnya. Ghadwah ialah bepergian pada pagi hari dan Rawhah pada sore hari, sedang Adduljah ialah pada akhir malam. Ini semua adalah sebagai kata kiasan atau perumpamaan. Maksudnya ialah: Hendaklah engkau semua memohonkan pertolongan untuk melakukan ketaatan kepada Allah 'Azzawajalla itu dengan melakukan berbagai amalan di waktu engkau semua dalam keadaan bersemangat, serta hati dalam keadaan lapang, sehingga dengan demikian engkau semua akan merasa lezat melakukan ibadah tadi dan tidak akan merasa bosan, juga dengan itu apa yang dimaksudkan sudah pula tercapai. Ini adalah sebagaimana seseorang yang pandai bepergian, ia tentu berangkat dalam keadaan semacam di atas itu dan ia beristirahat, baik dirinya maupun kendaraannya dalam waktu sudah lelah ataupun hati kurang enak. Dengan demikian dapat pula ia mencapai tujuannya tanpa kelelahan
samasekali. Wallahu a'lam.

📚📗📗📗📗📗📗📗📚

Karya: Al-Imam Al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi radhiyalllahu anhu


Minggu, 31 Mei 2020

063-Kajian Kitab Riyadussholihiin Banyaknya Jalan Kebaikan-31

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kajian Kitab Riyadussholihiin Edisi-31

13-Menerangkan Banyaknya Jalan-jalan Kebaikan:

13- باب بيان كثرة طرق الخير‏.‏

قال الله تعالى‏:‏ ‏{‏وما تفعلوا من خير فإن الله به عليم‏}‏ ‏(‏‏(‏البقرة 215‏)‏‏)‏‏.‏ وقال تعالى‏:‏ ‏{‏وما تفعلوا من خير يعلمه الله‏}‏ ‏(‏‏(‏البقرة‏:‏ 197‏)‏‏)‏ وقال تعالى‏:‏ ‏{‏فمن يعمل مثقال ذرة خيراً يره‏}‏ ‏(‏‏(‏الزلزلة‏:‏ 7‏)‏‏)‏ وقال تعالى‏:‏ ‏{‏من عمل صالحاً فلنفسه‏}‏ ‏(‏‏(‏الجاثية 15‏)‏‏)‏ والآيات في الباب كثيرة

وأما الأحاديث فكثيرة جداً، وهي غير منحصرة، فنذكر طرفاً منها‏:‏

117- الأول‏:‏ عن أبي ذر جندب بن جنادة رضي الله عنها قال‏:‏ قلت يا رسول الله، أي الأعمال أفضل‏؟‏ قال‏:‏ ‏"‏الإيمان بالله، والجهاد في سبيله‏"‏‏.‏ قلت‏:‏ أي الرقاب أفضل‏؟‏ قال‏:‏ ‏"‏أنفسها عند أهلها، وأكثرها ثمناً‏"‏ قلت‏:‏ فإن لم أفعل‏؟‏ قال‏:‏ ‏"‏تعين صانعاً أو تصنع لأخرق‏"‏ قلت‏:‏ يا رسول الله أرأيت إن ضعفت عن بعض العمل‏؟‏ قال‏:‏ تكف شرك عن الناس فإنها صدقة منك على نفسك‏"‏‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

118- الثاني‏:‏ عن أبي ذر أيضاً رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ يصبح على كل سلامى من أحدكم صدقة، فكل تسبيحة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهى عن المنكر صدقة، ويجزيء من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم(24)‏.‏

119- الثالث عنه قال‏:‏ قال النبي صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏"‏ عرضت علي أعمال أمتي حسنها وسيئها، فوجدت في محاسن أعمالها الأذى يماط عن الطريق، ووجدت في مساوىء أعمالها النخاعة تكون في المسجد لا تدفن‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

120- الرابع عنه‏:‏ أن ناساً قالوا‏:‏ يارسول الله، ذهب أهل الدثور بالأجور، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم قال‏:‏ ‏"‏ أو ليس قد جعل الله لكم ما تصدقون به‏:‏ إن بكل تسبيحة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة وفي بضع أحدكم صدقة قالوا‏:‏ يارسول الله أيأتى أحدنا شهوته، ويكون له فيها أجر‏؟‏‏!‏ قال‏:‏ ‏"‏ أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر‏؟‏ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

121-الخامس‏:‏ عنه قال لي النبي صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏"‏ لا تحقرن من المعروف شيئاً ولو أن تلقى أخاك بوجهٍ طليق‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

122- السادس ‏:‏ عن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏"‏ كل سلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس‏:‏ تعدل بين الأثنين صدقة، وتعين الرجل في دابته، فتحمله عليها، أو ترفع له عليها متاعه صدقة، والكلمة الطيبة صدقة، وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة، وتميط الأذى عن الطريق صدقة‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

ورواه مسلم أيضاً من رواية عائشة رضي الله عنها قالت‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏"‏ إنه خلق كل إنسان من بني آدم على ستين وثلاثمائه مفصل، فمن كبر الله، وحمد الله، وهلل الله، وسبح الله واستغفر الله، وعزل حجراً عن طريق الناس أو شوكة أو عظماً عن طريق الناس، أو أمر بمعروف أو نهى عن المنكر، عدد الستين والثلاثمائة، فإنه يمسي يومئذ وقد زحزح نفسه عن النار‏"‏‏.‏

132- السابع‏:‏ عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ من غدا إلى المسجد أو راح، أعد الله له في الجنة نزلا كلما غدا أو راح‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

124- الثامن‏:‏ عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏"‏ يا نساء المسلمات لا تحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

125- التاسع‏:‏ عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستون شعبة‏:‏ فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

126- العاشر‏:‏ عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ بينما رجل يمشى بطريق اشتد عليه العطش، فوجد بئراً فنزل فيها فشرب، ثم خرج فإذا كلب يلهث يأكل الثرى من العطش، فقال الرجل‏:‏ لقد بلغ هذا الكلب من العطش مثل الذي كان قد بلغ منى، فنزل البئر فملأ خفه ماء ثم أمسكه بفيه، حتى رقي فسقى الكلب، فشكر الله له فغفر له‏"‏ قالوا ‏:‏ يارسول الله إن لنا في البهائم أجراً‏؟‏ فقال‏:‏ في كل كبدٍ رطبة أجر‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Terjemah:

Menerangkan Banyaknya Jalan-jalan Kebaikan:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 215)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, pasti Allah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 197)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat timbangan debu, maka Ia akan mengetahuinya di akhirat nanti memperolehi balasannya." (az-Zalzalah: 7)

Juga Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang melakukan amal shalih, maka perbuatannya Itu akan menguntungkan dirinya sendiri." (al-Jatsiyah: 15)

Ayat-ayat yang berhubungan dengan bab ini amat banyak sekali.
Adapun Hadis-hadis yang menghuraikan bab ini juga amat banyak sekali dan tidak dapat diringkaskan keseluruhannya. Maka itu akan kami sebutkan sebahagian daripada Hadis-hadis tersebut:

01/117-Dari Abu Zar, iaitu Jundub bin Junadah radhiyallahu anhu, katanya: "Saya berkata: Ya Rasulullah, amalan manakah yang lebih utama banyak fadhilahnya?" Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab: "Iaitu beriman kepada Allah dan berjihad untuk membela agamaNya." Saya bertanya lagi: "Hamba sahaya manakah yang lebih utama?" Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab: "Iaitu yang dipandang terindah bagi pemiliknya serta yang termahal harganya." Saya bertanya pula: "Jikalau saya tidak dapat mengerjakan itu yakni berjihad fi-sabilillah ataupun memerdekakan hamba sahaya yang mahal harganya, maka apakah yang dapat saya lakukan?" Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Berilah pertolongan kepada seseorang pekerja shani' atau engkau mengerjakan sesuatu kepada seseorang yang kurang pandai bekerja akhraq." Saya berkata pula: "Ya Rasulullah, bukankah Tuan telah mengetahui, jikalau saya ini lemah sekali dalam sebahagian pekerjaan?" Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tahanlah keburukanmu, jangan sampai mengenai orang banyak, amalan sedemikian itu pun merupakan sedekah daripadamu untuk dirimu sendiri yakni tidak mengganggu orang lain." (Muttafaq 'alaih)

Lafaz Shani' yang ertinya pekerja dengan menggunakan shad muhmalah, itulah yang masyhur. Tetapi ada riwayat lain yang menyebutkan bahawa kalimat itu berbunyi dha-i', yakni dengan mu'jamah dhad, maka ertinya ini ralah orang yang mempunyai banyak apa-apa yang hilang, misalnya kerana kefakirannya ataupun kerana kekurangan keluarga-keluarganya dan lain-lain lagi. Adapun akhraq itu ertinya ialah orang yang tidak dapat memperbaguskan apa-apa yang sedang diusahakan untuk mengerjakannya.

02/118-Dari Abu Zar radhiyallahu anhu juga bahawasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Setiap ruas tulang dari seseorang di antara engkau semua itu setiap paginya hendaklah memberikan sedekahnya, maka tiap setasbihan bacaan Subhanallah adalah sedekah, tiap setahmidan bacaan Alhamdulillah adalah sedekah, tiap setahlilan bacaan La ilaha illallah adalah sedekah, tiap setakbiran bacaan AllahuAkbar adalah sedekah, memerintah pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah dan yang sedemikian itu dapat dicukupi diimbangi pahalanya oleh dua rakaat yang seseorang itu bersembahyang dengannya di waktu dhuha antara sedikit setelah terbitnya matahari sampai matahari di tengah-tengah atau istiwa'." (Riwayat Muslim)

03/119-Dari Abu Zar juga, katanya: "Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Ditunjukkanlah padaku amalan-amalan ummatku, yang baik dan yang buruk. Maka saya mengetahuinya dalam golongan amalan-amalan yang baik adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan, sedang dari golongan amalan-amalan yang buruk ialah dahak yang dilakukan di dalam masjid dan tidak ditanam." (Riwayat Muslim)

04/120-Dari Abu Zar pula, bahawasanya orang-orang sama berkata: "Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya raya sama pergi dengan membawa pahala yang banyak kerana banyak pula amalannya. Mereka itu bersembahyang sebagaimana kita juga bersembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kita juga berpuasa, tambahan lagi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan untukmu semua sesuatu yang dapat engkau semua gunakan sebagai sedekah. Sesungguhnya dalam setiap tasbih adalah merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, memerintahkan kebaikan juga sedekah, melarang kemungkaran itu pun sedekah pula dan bahkan dalam bersetubuhnya seseorang dari engkau semua itu pun sedekah."
Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah apakah seseorang dari kita yang mendatangi syahwatnya itu juga memperolehi pahala?" Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Adakah engkau semua mengerti, bagaimana jikalau syahwat itu diletakkannya dalam sesuatu yang haram, adakah orang itu memperolehi dosa? Maka demikian itu pulalah jikalau ia meletakkan syahwatnya itu dalam hal yang dihalalkan, ia pun memperolehi pahala." (Riwayat Muslim)

Ad-dutsuur, dengan tsa' yang bertitik tiga buah, artinya harta benda yang melimpah ruah, mufradnya berbunyi Ditsrun.

Keterangan:

Yang menghadap Nabi shallallahu alaihi wasallam ini adalah dari golongan kaum Muhajirin (orang-orang yang sama berpindah mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah) yang fakir fakir. Jadi pokoknya mereka mengadu kerana merasa kurang pahalanya kalau dibanding dengan orang-orang yang kaya-kaya itu, sebab merasa tidak dapat bersedekah kerana miskinnya. Setashbih, yakni sekali membaca tasbih (Subhanallah). Takbir iaitu membaca Allahu Akbar. Tahmid yakni bacaan Alhamdulillah dan Tahlil iaitu La ilaha illallah. Dalam kemaluan isteri pun ada sedekahnya yakni bersetubuh itu pun ada pahalanya seperti pahala sedekah. Menyampaikan syahwat dalam keharaman yakni melacur atau berzina.

05/121-Dari Abu Zar lagi, katanya: "Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Janganlah engkau menghinakan sesuatu kebaikan sedikitpun, sekalipun hanya dengan jalan engkau menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri." (Riwayat Muslim)

06/122-Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Setiap ruas tulang dari para manusia itu harus memberikan sedekah setiap harinya yang di situ terbitlah matahari. Berlaku adil antara dua orang itu pun sedekah, ucapan yang baik itu pun sedekah, dengan setiap langkah yang dijalaninya untuk pergi shalat juga sedekah, melemparkan apa-apa yang berbahaya dari jalan itu juga sedekah." (Muttafaq 'alaih)

Imam Muslim meriwayatkan juga dari riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bahawasanya setiap manusia dari Bani Adam itu dijadikan atas tiga ratus enam puluh ruas tulang. Maka barangsiapa yang bertakbir kepada Allah, bertahmid kepada Allah, bertahlil kepada Allah, bertasbih kepada Allah, mohon pengampunan kepada Allah, suka melemparkan batu dari jalan para manusia, ataupun duri ataupun tulang dari jalan orang banyak, atau memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran, sebanyak tiga ratus enam puluh kali banyaknya, maka sesungguhnya orang itu berpetang-petang pada hari itu dan ia telah menjauhkan dirinya dari neraka."

Keterangan:

Berlaku adil yang dimaksudkan dalam Hadis ini seperti waktu memberi pulusan pada dua orang yang sedang berselisih adalah sebesar-besar pahala dalam arti sedekah ini. Ingatlah firman Allah:
"Tidak ada kebaikan sama sekali di dalam bisik-bisik mereka itu. Kecuali orang yang menyuruh bersedekah dan kebaikan atau yang mendamaikan antara para manusia. Dan barangsiapa yang suka melakukan sedemikian itu untuk mencari keredhaan Allah, maka padanya oleh Allah diberi pahala yang besar sekali." Perkataan yang baik itu seperti memberi nasihat, menunjukkan orang yang tersesat jalan dan lain-lain. Menghindarkan bahaya dari jalan misalnya bahaya itu ialah batu, pecahan kaca, paku dan lain-lain agar tidak mengenai kaki orang yang melaluinya.

07/123-Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.,sabdanya: "Barangsiapa yang pergi ke masjid pagi atau petang hari, maka Allah menyediakan untuknya sebuah jaminan nuzul dalam syurga setiap ia pergi, pagi atau petang hari itu." (Muttafaq 'alaih)

Nuzul, maksudnya jaminan yang berupa makanan atau rezeki dan apa saja yang dapat disediakan untuk tamu.

08/124-Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu katanya: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Hai kaum muslimat wanita Islam, janganlah seseorang tetangga itu menghinakan tetangganya, sekalipun yang diberikan oleh tetangganya itu hanya berupa kaki kambing." (Muttafaq 'alaih)

Imam al-Jauhari berkata: Al-Firsin, ertinya kaki binatang umumnya dipergunakan untuk kaki unta, sebagaimana halnya lafaz At-Hafir dipergunakan untuk menerangkan kaki ternak yang lain-lain. Tetapi adakalanya Al-Firsin itu digunakan sebagai kata isti'arah (pinjaman) untuk menerangkan kaki kambing.

Keterangan:

Hadis ke-24 itu mengandungi dua macam pengertian iaitu: Orang yang diberi jangan sekali-kali menghinakan tetangganya yang memberikan sesuatu kepadanya, sekalipun berupa kaki kambing. Huraian inilah yang kami cantumkan di atas dan sesuai pula dengan penafsiran yang dapat kita periksa dalam kitab Dalilul Falihin syarah Riyadhus Shalihin, yang dikarang oleh Syekh 'Alan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Makki yang wafat pada tahun 1057 Hijriyah-Rahimahullahu Ta'ala rahmatan wasi'ah - yakni dalam jilid kedua halaman 128, diterbitkan oleh "Darul Kitabil 'Arabi", Beirut Lebanon. Jadi yang diberi hendaknya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pemberinya, meskipun apa yang diberikan itu baginya tidak bererti. Sebabnya orang yang diberi itu dilarang menghinakan pemberian orang lain, sekalipun sedikit nilainya, kerana pada umumnya orang yang enggan berterima kasih pada pemberian sedikit, ia enggan pula berterima kasih pada pemberian yang banyak. Dalam sebuah Hadis lain di sebutkan:
"Tidak bersyukur kepada Allah orang yang enggan bersyukur kepada sesama manusia." Dapat pula diberi penafsiran bahawa orang yang memberi itu jangan sekali-kali menghinakan kecilnya pahala yang akan diperolehinya dengan jalan memberikan sedekah atau hadiah yang disampaikan kepada tetangganya, meskipun hanya berupa kaki kambing. Ini sebagai sindiran kerana yang diberikan itu amat sedikitnya, kurang berharga atau tidak bererti. Jadi memberi itu sekalipun sedikit adalah lebih baik daripada tidak memberi sama sekali. Dalam persoalan pahalanya, Allah Ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang melakukan kebaikan meskipun itu seberat debu (biji sawi atau semut kecil), maka ia akan mengetahuinya (yakni mendapatkan pahalanya)."

Penjelasan ini sesuai dengan catatan yang ditulis oleh Al-Ustadz Ridhwan Muhammad Ridhwan dalam kitab Riyadhus Shalihin yang diterbitkan oleh "Darul Kitabil 'Arabi", Beirut Libanon.
Kedua pendapat di atas itu sama-sama dapat dipakainya, yakni baik bagi pemberi atau yang diberi. Yang memberi jangan menghina kecilnya pahala, sebab yang disedekahkan atau dihadiahkan hanya sedikit sekali, sedang yang diberi pun jangan menghina orang yang memberi, sebab sedekah atau hadiah yang disampaikan kepadanya itu hanya sedikit dan kurang berharga, iaitu kaki kambing atau lain-lain yang sifatnya tidak bernilai tinggi atau tidak mahal harganya.

09/125-Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., sabdanya: "Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih lebihnya ialah antara tiga sampai sembilan cabangnya. Maka yang terutama sekali ialah ucapan La ilaha illallah, sedang yang terendah sekali ialah melemparkan apa-apa yang berbahaya dari jalan. Perasaan malu berbuat keburukan adalah salah satu cabang dari keimanan." (Muttafaq 'alaih) 

010/126-Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu lagi bahawasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan, ia sangat merasa haus, lalu menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya terus minum. Setelah itu ia pun keluarlah. Tiba-tiba ada seekor anjing menghulur-hulurkan lidahnya sambil makan tanah kerana hausnya, Orang itu berkata dalam hati; "Nescayalah anjing ini telah sampai pada kehausan sebagaimana yang telah sampai padaku tadi." la pun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatu khufnya dengan air, kemudian memegang sepatu itu pada mulutnya, sehingga ia keluar dari sumur tadi, terus memberi minum pada anjing tersebut. Allah berterima kasih pada orang tadi dan memberikan pengampunan padanya."
Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala dengan sebab memberi makan minum pada golongan binatang?" Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab:
"Dalam setiap hati yang basah - maksudnya setiap sesuatu yang hidup yang diberi makan minum  ada pahalanya." (Muttafaq 'alaih)

Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari disebutkan demikian: "Allah lalu berterima kasih pada orang tersebut, kemudian memberikan pengampunan padanya, lalu memasukkannya ke dalam syurga."
Dalam riwayat lain dari Bukhari dan Muslim disebutkan pula: "Pada suatu ketika ada seekor anjing berputar-putar di sekitar sebuah sumur, hampir saja ia terbunuh oleh kehausan,tiba-tiba ada seseorang penzina perempuan dari golongan kaum pelacur Bani Israil melihatnya. Wanita itu lalu melepaskan sepatunya kemudian mengambilkan air untuk anjing tadi dan meminumkan air itu padanya, maka dengan perbuatannya itu diampunilah wanita tersebut.

Keterangan:
Hadis di atas mengandungi suatu anjuran supaya kita semua berbuat baik terhadap segala macam binatang yang muhtaram atau yang dimuliakan. Yang dimaksudkan binatang muhtaram ialah binatang yang menurut agama Islam tidak boleh dibunuh.


================

Karya: Al-Imam Al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi radhiyalllahu anhu.


Kamis, 14 Mei 2020

062-Kajian Kitab Riyadussholihiin Kebaikan Di Akhir Umur - 30

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kajian Kitab Riyadussholihiin Edisi-30

Menganjurkan Untuk Menambah-nambah Kebaikan Pada Akhir-akhir Umur

12- باب الحث على الازدياد من الخير في أواخر العمر

قال الله تعالى‏:‏ ‏{‏ أو لم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاءكم النذير‏}‏ ‏(‏‏(‏فاطر‏:‏ 37‏)‏‏)‏ 

قال ابن عباس، والمحققون معناه‏:‏ أو لم نعمركم ستين سنة‏؟‏ ويؤيده الحديث الذي سنذكره إن شاء الله تعالى، وقيل‏:‏ معناه ثماني عشرة سنة‏.‏ وقيل‏:‏ أربعين سنة قاله الحسن والكلبي ومسروق، ونقل عن ابن عباس أيضاً‏.‏ ونقلوا‏:‏ إن أهل المدينة كانوا إذا بلغ أحدهم أربعين سنة تقرغ للعبادة‏.‏‏(‏‏(‏وقيل‏:‏ هو البلوغ‏)‏‏)‏‏.‏

وقوله تعالى‏:‏ ‏{‏وجاءكم النذير‏}‏ قال ابن عباس والجمهور‏:‏ هو النبي صلى الله عليه وسلم‏.‏ وقيل‏:‏ الشيب‏.‏ قاله عكرمة، وابن عيينة، وغيرهما‏.‏ والله أعلم‏.‏

112- وأما الأحاديث فالأول‏:‏ عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏"‏ أعذر الله إلى امرئ أخر أجله حتى بلغ ستين سنة‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

113- الثاني‏:‏ عن ابن عباس، رضي الله عنهما، قال‏:‏ كان عمر رضي الله عنه يدخلني مع أشياخ بدر، فكأن بعضهم وجد في نفسه فقال‏:‏ لم يدخل هذا معنا ولنا أبناء مثله‏!‏‏؟‏ فقال عمر‏:‏ إنه من حيث علمتم‏!‏ فدعاني ذات يوم فأدخلني معهم، فما رأيت أنه دعانى يومئذ إلا ليريهم قال‏:‏ ما تقولون في قول الله تعالى‏:‏ ‏{‏إذا جاء نصر الله والفتح‏؟‏‏)‏ ‏(‏‏(‏النصر‏:‏1‏)‏‏)‏ فقال بعضهم‏:‏ أمرنا نحمد الله ونستغفره إذا نصرنا وفتح علينا‏.‏ وسكت بعضهم فلم يقل شيئاً‏.‏ فقال لي‏:‏ أكذلك تقول يا ابن عباس‏؟‏ فقلت‏:‏ لا‏.‏ قال فما تقول‏؟‏ قلت‏:‏ هو أجل رسول الله صلى الله عليه وسلم، أعلمه له قال‏:‏ ‏{‏إذاجاء نصر الله والفتح‏}‏ وذلك علامة أجلك ‏{‏فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان تواباً‏}‏ ‏(‏‏(‏الفتح‏:‏ 3‏)‏‏)‏ فقال عمر رضي الله عنه‏:‏ ما أعلم منها إلا ما تقول‏.‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

114- الثالث‏:‏ عن عائشة رضي الله عنها قالت‏:‏ ما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة بعد أن نزلت عليه ‏{‏ إذا جاء نصر الله والفتح‏}‏ إلا يقول فيها‏:‏ ‏"‏ سبحانك ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

وفي رواية في الصحيحين‏"‏ عنها‏:‏ كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر أن يقول في ركوعه وسجوده‏:‏ ‏"‏سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي‏"‏ يتأول القرآن‏.‏

وفي رواية لمسلم‏:‏ كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر أن يقول قبل أن يموت‏:‏ ‏"‏سبحانك اللهم وبحمدك، أستغفرك وأتوب إليك‏"‏‏.‏ قالت عائشة‏:‏ قلت‏:‏ يا رسول الله ما هذه الكلمات التي أراك أحدثتها تقولها‏؟‏ قال‏:‏ ‏"‏جعلت لي علامة في أمتي إذا رأيتها قلتها ‏{‏إذا جاء نصر الله والفتح‏}‏ إلى آخر السورة‏"‏‏.‏

وفي رواية له‏:‏ كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر من قول‏:‏ ‏"‏سبحان الله وبحمده، أستغفر الله وأتوب إليه‏"‏‏.‏ قالت‏:‏ قلت‏:‏ يا رسول الله‏!‏ أراك تكثر من قول‏:‏ سبحان الله وبحمده، أستغفر الله وأتوب إليه‏؟‏ فقال‏:‏ ‏"‏أخبرني ربي أني سأرى علامة في أمتي فإذا رأيتها أكثرت من قول‏:‏ سبحان الله وبحمده، أستغفر الله وأتوب إليه، فقد رأيتها‏:‏ ‏{‏إذا جاء نصر الله والفتح‏}‏ فتح مكة، ‏{‏ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجاً، فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان تواباً‏}‏‏.‏

115- الرابع؛‏:‏ عن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ إن الله عز وجل تابع الوحي على رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل وفاته، حتى توفي أكثر ما كان الوحي‏"‏‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

116- الخامس‏:‏ عن جابر رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏"‏يبعث كل عبد على ما مات عليه‏"‏‏.‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

Terjemah:

Menganjurkan Untuk Menambah-nambah Kebaikan Pada Akhir-akhir Umur:

Allah Ta'ala berfirman: "Bukankah Kami telah memberikan umur yang cukup kepadamu semua. Dalam masa itu orang yang mahu mengerti dapatlah mengambil pengertian dan orang yang memberikan peringatan pun telah datang padamu semua." (Fathir: 37)

Ibnu Abbas serta para muhaqqiq ahli penyelidik agama-mengatakan bahawa artinya umur cukup itu ialah: Bukankah Kami telah memberikan padamu semua umur sampai enam puluh tahun. Penegasan ini dikuatkan pula oleh Hadis yang akan kami sebutkan di belakang Insya Allah. Diterangkan pula oleh ulama-ulama yang lain bahawa maknanya itu ialah lapan belas tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh tahun. Keterangan ini diucapkan oleh Al-hasan, Alkalbi dan Masruq, juga dikutip dari keterangan Ibnu Abbas yang lain. Mereka itu mengutip pula bahawa para ahli Madinah, apabila seseorang dari mereka itu telah mencapai umur empat puluh tahun, maka selalulah ia menghabiskan waktunya untuk beribadat.
Ada pula yang mengatakan bahawa umur cukup itu artinya ialah jikalau telah baligh.

Adapun firman Allah Ta'ala yang artinya: "Telah pula datang padamu semua seorang yang bertugas memberikan peringatan." Ibnu Abbas dan Jumhur ulama mengatakan bahawa yang dimaksud itu ialah Nabi shallallahu alaihi wasallam Ada lagi yang menerangkan bahawa maksudnya itu ialah adanya uban. Ini diucapkan oleh 'Ikrimah, Ibnu 'Uyainah dan lain-lainnya. Wallahu a'lam.

Adapun Hadis-hadisnya ialah:

1/112-Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, sabdanya: "Allah tetap menerima uzur alasan seseorang yang diakhirkan ajalnya, sehingga ia berumur enampuluh tahun." (Riwayat Bukhari)
Para ulama berkata bahwa maknanya itu ialah Allah tidak akan membiarkan-tidak menerima-uzur seseorang yang sudah berumur enampuluh tahun itu, sebab telah dilambatkan oleh Allah sampai masa yang setua itu. Dikatakan: Azarar rajulu: apabila ia sangat banyak mengemukakan keuzurannya.

2/113-Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Umar radhiyallahu anhu  memasukkan diriku [11] dalam barisan sahabat-sahabat tua yang pernah mengikuti perang Badar. Maka sebahagian orang-orang tua itu seolah-olah ada yang merasakan tidak enak dalam jiwanya, lalu berkata: "Mengapa orang ini masuk beserta kita, sedangkan kita mempunyai anak-anak yang sebaya umurnya dengan dia?" Umar kemudian menjawab: "Sebenarnya dia itu sebagaimana yang engkau semua ketahui," - maksudnya bahawa Ibnu Abbas itu diasuh dalam rumah kenabian dan ia adalah sumber ilmu pengetahuan dan berbagai pendapat yang tepat."
Selanjutnya pada suatu hari Umar memanggil saya, lalu memasukkan saya bersama-sama dengan para orang tua di atas. Saya tidak mengerti bahawa Umar memanggil saya pada hari itu, melainkan hanya untuk memperlihatkan keadaan saya kepada mereka itu. Umar itu berkata: "Bagaimanakah pendapat saudara-saudara mengenai firman Allah yang artinya: "Jikalau telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." Maka sebahagian para sahabat tua-tua itu berkata: "Maksudnya ialah kita diperintah supaya memuji kepada Allah serta memohonkan pengampunan daripadaNya jikalau kita diberi pertolongan serfa kemenangan." Sebahagian mereka yang lain diam saja dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Umar lalu berkata kepadaku: "Adakah demikian itu pula pendapatmu, hai Ibnu Abbas?" Saya lalu menjawab: "Tidak." Umar bertanya lagi: "Jadi bagaimanakah pendapatmu?" Saya menjawab: "Itu adalah menunjukkan tentang ajal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah telah memberi tahukan pada beliau tentang dekat tibanya ajal itu. Jadi Allah berfirman yang artinya: "Jikalau telah datang pertolongan dari Allah serta kemenangan," maka yang sedemikian itu adalah sebagai tanda datangnya ajalmu. Oleh sebab itu maka memaha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan padaNya, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima taubat."
Umar radhiyallahu anhu lalu berkata: "Memang, saya sendiri tidak mempunyai pendapat selain daripada seperti apa yang telah engkau ucapkan itu." (Riwayat Bukhari)

3/114-Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersembahyang sesuatu shalat setelah turunnya ayat: Idza ja-a nashrullahi walfathu. Apabila telah tiba pertolongan dari Allah dan kemenangan, melainkan dalam shalatnya itu selalu mengucapkan: Subhanaka rabbana wa bihamdik. Allahummaghfirli - Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu. Ya Allah berilah pengampunan padaku." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat yang tertera dalam kedua kitab shahih-yakni Bukhari dan Muslim, disebutkan dari Aisyah pula demikian: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu memperbanyakkan ucapannya dalam ruku' dan sujudnya iaitu: Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika, Allahummaghf'irlii. Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu. Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku," beliau mengamalkan benar-benar apa-apa yang menjadi isi al-Quran.

Makna: Yata-awwalul Quran ialah mengamalkan apa-apa yang diperintahkan pada beliau itu yang tersebut dalam al-Quran, yakni dalam firman Allah Ta'ala: Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu, artinya: Maka maha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada TuhanMu dan mohonlah pengampunan kepadaNya.

Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu memperbanyak ucapannya sebelum wafatnya, iaitu: Subhanaka wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik Maha Suci Engkau dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu, saya mohon pengampunan serta bertaubat kepadaMu.
Aisyah berkata: Saya berkata: "Hai Rasulullah, apakah ertinya kalimat-kalimat yang saya lihat Tuan baru mengucapkannya itu?" Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Itu dijadikan sebagai alamat bagiku untuk ummatku, jikalau saya telah melihat alamat tersebut. Itu saya ucapkan apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan." Beliau membaca surah an-Nashr itu sampai selesai.

Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan: "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperbanyakkan ucapan: Subhanallah wabihamdih, astaghfirullah wa atubu ilaih Maha Suci Allah dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaNya, saya mohon pengampunan serta bertaubat kepadaNya.
Aisyah berkata: Saya berkata: "Ya Rasulullah, saya lihat Tuan selalu memperbanyak ucapan: Subhanallah wa bihamdih, astaghfirullah wa atubu ilaih. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam lalu bersabda: "Tuhanku telah memberitahukan kepadaku bahawasanya aku akan melihat sesuatu alamat untuk ummatku. Jikalau saya melihatnya itu, maka aku memperbanyakkan ucapan Subhanallah wa bihamdih astaghfirullah wa atubu ilaih. Kini aku telah melihat alamat tersebut, iaitu jikalau telah datang pertolongan Allah dan kemenangan yakni dengan dibebaskannya kota Makkah. Dan engkau melihat para manusia masuk dalam agama Allah dengan berduyun-duyun. Maka maha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan kepadaNya, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima taubat."

4/115-Dari Anas radhiyallahu anhu katanya: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa jalla senantiasa mengikutkan terus-sambung menyambung dalam menurunkan wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebelum wafatnya sehingga beliau itu wafat, di situlah sebahagian besar wahyu diturunkan." (Muttafaq 'alaih)

5/116-Dari Jabir radhiyallahu anhu katanya: "Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Dibangkitkan setiap hamba itu dari kuburnya, menurut apa yang ia mati atasnya." (Riwayat Muslim)

Keterangan:

Hadis ini menyerukan setiap manusia muslim lagi mu'min agar senantiasa berbuat kebaikan kepada siapapun, mengerjakan apa-apa yang diredhai Allah, menetapi sunnah-sunnahnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam segala waktu, tempat dan keadaan. Juga menyerukan supaya terus menerus memiliki keikhlasan hati dalam mengamalkan segala hal semata-mata untuk Allah Ta'ala jua, baik dalam ucapan ataupun perbuatan. Kepentingannya ialah agar di saat kita ditemui oleh ajal, maka kematian kita pun menetapi keadaan sebagaimana yang tersebut di atas itu, sehingga pada hari kita diba'ats atau dibangunkan dari kubur nanti, keadaan kita pun sebagaimana halnya apa yang kita tetapi sewaktu kita berada di dunia ini.

Semogalah kita memperolehi husnul-khatimah atau penghabisan yang bagus dan terpuji.



================

Karya: Al-Imam Al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi radhiyalllahu anhu.



Sabtu, 02 Mei 2020

061-Hukum Terputusnya Haid Dan Melaksanakan Puasa Doc - 1196

Pertanyaan Dari Siti Rahayu @ 4 Juli 2016

Assalamu'alaikum . . . . . Titipan pda bulan Ramadlan, ada seorang cewek mengeluarkan darah berwana merah kehitaman (abang tuwek) selama 5 hari , kemudian 3 hari berhenti atau suci, diwaktu 3 hari suci dia berpuasa, tapi lalu keluar lagi darah slma 3 hari dngan warna darah yg sama . Pertanyaan 1. Darah apa sajakah yg di alami cewek itu ? 2. Sah kah puasanya cewek itu pada 3 hari saat darah berhenti ?

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Seorang wanita megeluarkan darah haidl selama 5 hari lalu darah berhenti selama 3 hari kemudian keluar lagi selama 3 hari?”

Di dalam sebuah literatur Fiqh (al-Ibanah Wa al-Ifadlah) dijelaskan tentang terhentinya darah diantara darah-darah haidl. Dijelaskan bahwa ketika seorang wanita mengeluarkan darah haidl selama 1 hari dan bersih (naqa’) selama satu hari atau mengeluarkan darah selama 1 jam dan bersih selama 1 jam dan seterusnya, maka tidak ada pro dan kontra dalam madzhab sesungguhnya hari-hari keluar darah adalah masa haidl dan tidak ada pro dan kontra bahwa sesungguhnya ketika ia tidak mengeluarkan darah, maka ia harus mandi, shalat dan puasa, suami boleh menyetubuhinya, karena yang jelas adalah suci dan tidak keluar darah kembali. Ulama’ berbeda pandangan tentang terhentinya darah diantara dua darah haidl, dan pendapat adzhar menyatakan haidl dengan syarat sebagai berikut:

·         Tidak melebihi 15 hari. Jika ia keluar darah selama 10 hari lalu darah terhenti dan tidak kembali kecuali pada hari ke 16, maka darah yang keluar pada hari ke 16 dan sebelumnya bukan darah haidl, melainkan ia suci, karena tidak diikuti darah pada hari ke 15.

·         Himpunan darah tidak kurang dari batas minimal haidl. Ketika himpunan darah kurang dari sehari semalam, maka darah tersebut dikategorikan darah istihadlah.

Di dalam sebuah literatur Fiqh yang lain (Risalah al-Mahidl) juga dijelaskan bahwa masa minimal haidl adalah sehari semalam, yakni kurang lebih 24 jam secara terus menerus mengacu pada adat dalam haidl, karena jika diselingi terhentinya darah, maka semua dikategorikan haidl selama tidak melebihi 15 hari dan tidak kurang dari batas minimal haidl mengacu pada salah satu pendapat (sahbi) yang merupakan pendapat yang terpercaya (mu’tamad). Sebagaian pendapat memyatakan suci dan pendapat ini dinamakan (al-laqthi). Adapun batas maksimal haidl adalah 15 hari 15 malam.

Dari pemaparan tersebut di atas dan mengacu pada pendapat yang terpercaya, dapat diketahui bahwa semua masa yang dilalui wanita tersebut, baik masa keluar darah (5 hari), terhenti (3 hari) dan keluar lagi (3 hari) adalah haidl.

“Bagaimanakah hukum puasa yang dilakukan wanita tersebut pada masa tidak keluar darah (3 hari)?”

Juga dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa puasa yang dilaksanakan wanita tersebut tidak sah, karena masa tidak keluar darah tersebut adalah dalam kategori haidl menurut pendapat yang terpercaya (mu’tamad). Namun jika mengacu pada pendapat al-laqthi, maka puasa yang dilaksanakan adalah sah, karena ia terbilang suci. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadzah Aumala Zhulfaa:

النقاء المتخلل بين الدماء الحيض: اذا رأت الحائض يوما دما ويوما نقاء او ساعة دما وساعة نقاء وهكذا، فلا خلاف على المذهب ان ايام الدم حيض، ولا خلاف انها اذا رأت النقاء يجب عليها ان تغتسل وتصلي وتصوم، ويجوز للزوج وطؤها، لأن الظاهر بقاء الطهر وعدم معاودة الدم، واختلفوا في النقاء الذي يكون بين دمي الحيض، والأظهر انه حيض بالشروط التالية : ان لا يجاوز الخمسة عشر يوما، فلو رأت الدم عشرة ايام ثم نقاء ولم يأتي الدم الا في السادس عشر، فالسادس عشر وما قبله ليس بحيض بل طهر لأن ذلك النقاء لم يعقبه دم في الخمسة عشر. ان لا ينقص مجموع الدماء عن اقل الحيض، فاذا نقص مجموع الدماء عن يوم وليلة فهذا الدم دم استحاضة واكثره خمسة عشر يوما بليالها....... الى ان قال الإبانة والإفاضة / 20

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

واقل الحيض زمنا يوم وليلة اى مقدار ذلك وهو اربعة وعشرون ساعة على اتصال معتاد فى الحيض اذ لو تخلله نقاء فالكل حيض اذا لم يجاوز خمسة عشر يوما ولم ينقص الدم عن اقل الحيض على قول السحب وهو المعتمد وقيل ان النقاء طهر ويسمى قول اللقط. رسالة المحيض –ص 3

Daftar Pustaka:

1.      Al-Ibanah Wa al-Ifadlah. 20

2.      Risalah al-Mahidl. 3



=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)



MUSHAHIH:

1.      Al-Ustadz Tamam Reyadi

2.      Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3.      Al-Ustadz Abdul Malik

4.      Al-Ustadz Rofie

5.      Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6.      Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7.      Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi



PERUMUS:

Al-Ustadz Ibnu Malik. SP.d.i

http://taklimtanahmerah.com/konsultasi-agama-2/puasa/1248-doc-1196-teputusnya-haidl-dan-melaksanakan-puasa.html


060-Hukum Menyingkat Tulisan SWT Dan Saw Doc - 1191

Pertanyaan Dari Hasanudin Priggi @ 13 Juli 2016 pukul 04:54

Assalamu'alaikum. Wr. Wb Ma'af para ustadz ustadzah, saya mau tanya. apa hukumnya menyingkat nama sifat Allah seperti Allah SWT, Muhammad SAW dam Assalamualaikum. Wr. Wb padahal Hadits Nabi. SAW

~~~~~~~~~

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

“Bagaimanakah hukum menyinkat penulisan sifat Allah seperti SWT dan penulisan SAW?”

Imam Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi di dalam kitabnya (Tadrib al-Rawi) menjelaskan bahwa makruh menyingkat keduanya dalam penulisan dengan 1 atau 2 huruf seperti orang menulis “صلعم” (singkatan dari shallallahu ‘alaihi wa sallam), tapi tulislah dengan sempurna, dan orang yang pertama kali menulis dengan disingkat, dipotong tangannya.

Imam Syamsuddin; Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi di dalam kitabnya (Fathu al-Mughit Syarh Alfiyah al-Hadits) juga menuturkan dan mewanti-wanti agar para penulis tidak menyingkat penulisan shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyingkat menjadi 2 huruf dan lain sebagainya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang selain Arab dan para pelajar, mereka menulis “ص” atau “صم” atau “صلم” atau “صلعم” sebagai pengganti “shallallahu ‘alaihi wa sallam”, karena mengurangi pahala dan itu menyalahi kode etik (hilaful aula).

Dengan demikian dapat diketahui bahwa hukum menyinkat penulisan sifat Allah seperti SWT dan penulisan SAW adalah hilaf:

• Sebagian Ulama’ menyatakan makruh

• Sebagian yang lain menyatakan menyalahi kode etik (hilaful aula).

Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

( و ) يكره ( الرمز إليهما في الكتابة ) بحرف أو حرفين كمن يكتب صلعم ( بل يكتبهما بكمالهما ) ويقال إن أول من رمزهما بصلعم قطعت يده. تدريب الراوي - (ج 2 / ص 77)



Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Zafi AL Dimass:

واجتنبت أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه و سلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على ما به. فتح المغيث - (ج 2 / ص 182)



Daftar Pustaka: 1. Tadrib al-Rawi. II/ 77 2. Fathu al-Mughit Syarh Alfiyah al-Hadits. II/ 182

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

1. Al-Ustadz Tamam Reyadi

2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan

3. Al-Ustadz Abdul Malik

4. Al-Ustadz Rofie

5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin

6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori

7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi



PERUMUS:

 Al-Ustadz Ibnu Malik. SP. d I

Untuk menelusuri pertanyaan dan kajian ilmu agama lainnya silahkan buka link dibawah 👇👇👇


http://taklimtanahmerah.com/konsultasi-agama-2/lain-lain/1243-doc-1191-hukum-menyingkat-tulisan-swt-dan-saw.html




059-Kajian Kitab Risatul Muawanah Memperbaiki Dan Memperkuat Aqidah - 25

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-25

Memperbaiki Dan Memperkuat Aqidah. 

                                                             بتحسين معتقدك وإصلاحه 

                                                                                                                          
                                                ============Terjemah:============

Hendaklah engkau selalu memperbaiki dan memperkuat akidahmu yang sesuai dengan golongan yang selamat yang disebutahlus sunnah wal jamaah. Karena golongan ini selalu berpegang teguh dan mengikuti jejak Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya.

Jika engkau mempau menggunkan pemahaman yang lurus dan benar tentang Al-Qur`an dan hadits yanf menguraikan keimanan, sejarah kaum salaf, para sahabat dan tabiin, maka engkau akan mengetahui dan dapat membuktikan kebenaran ahlus sunnah, wal jamaah (Asy`ariyah) yang dinisbatkan pada Abu Hasan Al-Asy`ary. Kebenaran yang akan sesuai di setiap masa dan tempat.

Rumusan Abu Hasan ini juga merupakan standar para sufi sebagaimana diutarakan Abu Qasim Al-Quraisy di awal risalahnya. Dan ia juga,adalah akidah kami, keluarga kami dan para sayyid dari keturunan sayyid Husein (Alawiyyin) adalah akidah leluhur kami dari zaman Rasulullah hingga saat ini.

Al-Imam Muhajirin Syekh Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Al-Imam Ja`far As-Sadiq ra. ketika menyaksikan munculnya bid`ah, diobralnya hawa nafsu, dan perbedaan pendapat makin menghangat, maka beliau hijrah dari negaranya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.

Dan Allah memberkahi keturunannya hingga banyak di antara mereka yang terkenal dengan ilmu, ibadah, kewalian dan makrifatnya. Dan mereka terpelihara dari bid`ah dan perbuatan sesat berkat niat suci imam yang terpercaya ini, dan hijrah beliau dari negeri yang penuh fitnah (Irak).

Semoga Allah memberinya balasan yang sebaik-baiknya dan berkah pada kami, sebagaimana seorang ayah memberi anaknya, dan mengangkat derajatnya beserta leluhur-leluhurnya yang mulia ke tempat tertinggi, dan mengikutsertakan kami menuju kebaikan dan kesejahteraan serta selamat dari segala ujian dan cobaan. Karena Dialah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Wajib bagi orang beriman menjaga akidahnya dan mengikuti para ulama yang agung dan berpegang teguh dalam ilmunya, akidah yang jelas terhindar dari syubhat atau keraguan. Hal ini sesuai dengan akidah Imam Ghazali yang telah dijelaskan pada bab Qawaisil Aqaid, pasal pertama dan ketiga dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Janganlah engkau gegabah dalam membahas ilmu Tauhid serta memperdebatkannya semata-mata hanya karena untuk memperoleh pemahaman yang sempurna. Karena engkau tak akan mampu memahami ilmu Tauhid kecuali jika engkau mengikuti jalan keselamatan dengan bertasawuf, yakni senantiasa bertakwa lahir batin, merenungi ayat-ayat Allah dan hadits, mwmikirkan ciptaan Allah yang ada di bumi dan langit dengan tujuan untuk memantapkan keimanan dan konsekuen dalam bertauhid, menghiasa diri dengan perangai yang terpuji, jauh dari akhlak yang tercela dengan membersihkan hati, beristiqamah dalam berzikir, bertafakur dan mampu melepaskan diri dari sesuatu yang mengganggu untuk memperoleh pemahaman dalam ilmu Tauhid.

Insya Allah dengan metode ini engkau mampu memahami ilmu Tauhid secara mendalam dan benar.

Kaum Sufi misalnya, senantiasa memerangi hawa nafsu mereka dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Semua itu mereka jalankan hingga mencapai derajat ahli beribadah yang merupakan dambaan dan harapan setiap orang makrifat dan hakikat.

=============

Refrensi:

ص : ١/٣٠/٣١ - كتاب رسالة المعاونة

(وعليك) بتحسين معتقدك وإصلاحه وتقويمه على منهاج "الفرقة الناجية" وهي المعروفة بين سائر الفرق الإسلامية بأهل السنة والجماعة وهم المتمسكون بما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، وأنت إذا نظرت بفهم مستقيم عن قلب سليم في نصوص الكتاب والسنة المتضمنة لعلوم الإيمان، وطالعت سير السلف الصالح من الصحابة والتابعين، علمت وتحققت أن الحق مع الفرقة الموسومة بالأشعرية نسبة إلى الشيخ "أبي الحسن الأشعري" رحمه الله فقد رتب قواعد عقيدة أهل الحق وحرر أدلتها، وهي العقيدة التي إجتمعت عليها الصحابة ومن بعدهم من خيار التابعين، وهي عقيدة أهل الحق من أهل كل زمان و مكان وهي عقيدة جملة أهل التصوف كما حكى ذلك أبو القاسم القشيري في أول رسالته.
وهي بحمد الله عقيدتنا، وعقيدة إخواننا من السادة الحسينيين المعروفين بآل أبي علوي، وعقيدة أسلافنا من لدن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا، وكان الإمام المهاجر إلى الله جد السادة المذكورين سيدي "أحمد بن عيسى بن محمد بن علي ابن الإمام جعفر الصادق" رضي الله عنهم لما رأى ظهور البدع وكثرة الأهواء واختلاف الآراء بالعراق هاجر منها ولم يزل –نفع الله تعالى به- يتنقل في الأرض، حتى أتي أرض "حضرموت" فأقام بها إلى أن توفي، فبارك الله في عقبه، حتى اشتهر منهم الجم الغفير العلم والعبادة والولاية والمعرفة ولم يعرض لهم ما عرض لجماعات من أهل البيت النبوي من انتحال البدع واتباع الأهواء المضلة ببركات نية هذا الإمام المؤتمن وفراره بدينه من مواضع الفتن، فالله تعالى يجزيه عنا أفضل ما جزى والداً عن ولده ويرفع درجته مع آبائه الكرام في عليين ويلحقنا بهم في خير وعافية غير مبدلين ولا مفتونين إنه أرحم الراحمين. والماتريدية كالأشعرية في جميع ما تقدم.
وينبغي لكل مؤمن أن يحصن معتقده بحفظ عقيدة من عقائد الأئمة المجمع على جلالتهم ورسوخهم في العلم. ولا أحسب مبتغي ذلك يصادف عقيدة جامعة واضحة بعيدة عن الشُّبَه مثل عقيدة الإمام الغزالي رضي الله عنه التي أوردها في الفصل الأول من كتاب قواعد العقائد من الإحياء، فعليك بها فإن تشوفت إلى مزيد فانظر في الرسالة القدسية التي أوردها في الفصل الثالث من الكتاب المذكور.
ولا تتوغل في علم الكلام ولا تكثر من الخوض فيه لمجرد طلب التحقيق في المعرفة فإنك لا تظفر بهذا المطلوب من هذا العلم. ولكن إن أردت التحقق في المعرفة فعليك بسلوك طريقه وهي التزام التقوى ظاهراً وباطناً، وتدبر الآيات والأخبار، والنظر في ملكوت السماوات والأرض على قصد الاعتبار، وتهذيب أخلاق النفس وتلطيف كثافاتها بحسن الرياضة، وتصقيل مرآة القلب بملازمة الذكر والفكر، والإعراض عما يشغل عن التجرد لهذا الأمر. فهذا سبيل التحصيل إن سلكته عثرت -إن شاء الله تعالى- على المطلوب، وظفرت بالأمر المرغوب، والصوفية إنما جاهدوا نفوسهم وبالغوا في رياضتها وقطعوها عن عاداتها ومألوفاتها لعلمهم بتوقف حصول كمال المعرفة على ذلك، وعلى كمال المعرفة يتوقف التحقق بمقام العبودية الذي هو بغية العارفين وأمنية المحققين رضي الله عنهم أجمعين.




===============

Risalatul Muawanah: karya al- Arif billah al-Imam Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad. 1/30/31



Jumat, 01 Mei 2020

058-Kajian Kitab Risalatul Muawanah Bertanya Pada Ulama - 24


Assalamualaikum  Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-24

Bertanya Pada Ulama:               👈 أنه لا يستقل بعرض جميع أموره  👉             

                                                       =========Terjemah:========

Ketahuilah, bahwa tak seorang pun mampu menyelesaikan segala persoalannya sendiri baik lahir dan batin sesuai dengan Al-Qur`an dan hadits, karena kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh ulama yang ilmunya sudah mendalam. Jika engkau menghadapi suatu masalah yang tak mampu engkau selesaikan sendiri, maka kembalikanlah permasalahan itu pada orang-orang yang dipilih Allah sebagai tempat kembali (ulama).

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
فَسْئَلُواأَهْلَ الذِّكْرِإِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ 43
“Maka bertanyalah kepada ahli zikir, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 43)

Yang dimaksud ahli zikir adalah ulama yang mengetahui dan memahami sifat-sifat Allah dan agama-Nya, mengamalkan ilmu yang dimilikinya, selalu mencari keridaan Allah, zuhud terhadap keduniaan, selalu ingat pada-Nya, tidak terganggu oleh perniagaan dan jual beli, berdakwah ke jalan Allah Subhanahu wata'ala dengan akal dan kearifan sehingga terbuka baginya rahasia-rahasia Allah. Ahli zikir inilah yang patut menyandang identitas ulamaur-rashihin. Namun ulama seperti ini sudah sangat langka keberadaannya sehingga beberapa ulama besar berpendapat bahwa ulamaur-rashihin ini sudah tidak ada lagi. Tetapi, pada hakikatnya, ulamaur-rashihin itu masih ada. Hanya saja mereka ditutupi oleh Allah dengan tirai sifat kemuliaan-Nya dan dirahasiakan, karena perbuatan orang-orang tertentu dan berpalingnya orang-orang awam dari mereka. Barangsiapa yang ingin mencari ulamaur-rashihin, hendaklah bersungguh-sungguh, Insya Allah dapat menemukan salah satu di antara mereka. Karena kesungguhan itu laksana pedang, bila diletakkan pada sesuatu, maka ia akan memotongnya. Dan juga di bumi ini tidak akan sunyi dari orang-orang yang berjuang dan menegakkan agama Alalh, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِىْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ نَاوَأَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُاللَّهِ.
“Segolongan umatku senantiasa menyampaikan kebenaran, tidak goyah atas tindakan orang-orang yang menentang mereka hingga hari kiamat.”

Mereka laksana bintang yang bertaburan di atas bumi ini, pemegang amanat, pengganti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : pewaris para Nabi dan prajurit Allah. Ketahuilah bahwa prajurit Allah adalah orang-orang yang berbahagia.


==========

Refrensi:

ص : ١/٢٩ - كتاب رسالة المعاونة

(واعلم) أنه لا يستقل بعرض جميع أموره التي تقع له في ظاهره وباطنه على الكتاب والسنة كل أحد، فإن ذلك مخصوص بالعلماء الراسخين فإن عجزت عن شيء من ذلك، فعليك بالرجوع إلى من أمرك الله بالرجوع إليه في قوله تعالى: (فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) وأهل الذكر هم العلماء بالله وبدينه العاملون بعلمهم ابتغاء وجه الله تعالى الزاهدون في الدنيا الذين لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله تعالى الداعون إلى الله على بصيرة المكاشفون بأسرار الله.
وقد عز على بسيط الأرض وجود واحد من هؤلاء حتى لقد زعم جماعة من الأكابر أنهم مفقودون، والحق أنهم موجودون ولكن قد سترهم الله برداء الغيرة وضرب عليهم سرادقات الإخفاء، لغفلة الخاصة وإعراض العامة، فمن طلبهم بصدق وجد في ذلك لم يعوزه –إن شاء الله تعالى- وجود واحد منهم، فالصدق سيف لا يوضع على شيء إلا قطعه، والأرض لا تخلو من قائم لله بحجة. وقد قال عليه الصلاة والسلام: "لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من ناوأهم حتى يأتي أمر الله".
أولئك نجوم الأرض وحمال الأمانة ونواب المصطفى وورثة الأنبياء، رضي الله عنهم ورضوا عنه، أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون.



===============

Risalatul Muawanah: karya al- Arif billah al-Imam Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad. 1/29

067-Kiat Meredam Amarah: Doc-1305

  Masyruch El Basyirah​  23 Februari 2017 pukul 2:09 Assalamu'alaikum MTTM. Mohon shar tentang cara menanggulangi amarah . Se...