Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Kata PENGANTAR PENYUSUN:
Muqaddimah:
Bismillahirrahmanirrahiim.
Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Esa, Yang Maha Mulia, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Memberi Rizki, Yang Maha Pengasih dan banyak memberi, Yang telah mengutus Nabi Muhammad sebagai penutup nabi-nabi dengan membawa risalah-Nya kepada seluruh makhluk, dari golongan manusia dan jin. Dan Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Beliau, yang di dalamnya terdapat petunjuk buat manusia serta penjelasan yang menerangkan tentang yang hak dan yang batil. Allah juga mensyariatkan buat Beliau dan umatnya seperti yang telah disyariatkan-Nya kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa alaihi wa alaihimush shalatu was salam.
Allah Ta’ala pun telah mengistimewakan agam Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad di atas agama-agama yang lain dan menjadikan beliau sebagai makhluk yang paling mulia serta mengangkat umatnya sebagai sebaik-baik umat yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menyampaikan amar makruf nahi munkar, saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan dan tidak tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, saling menasihati dalam kesabaran, berjuang menegakkan agama Allah serta tidak takut dan gentar menghadapi hinaan orang-orang yang jauh dari garis kebenaran.
Tidaklah berpaling dari jalan Allah dan enggan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah atasnya, melainkan orang-orang yang telah dicap Allah sebagai orang yang celaka, rugi dan terhina. Dan tidaklah berjuang semata-mata untuk memberi nasihat kepada hamba-hamba Allah dan menyeru mereka ke jalan Allah, melainkan orang-orang yang telah dipastikan Allah untuk mendapatkan kebaikan, berupa kebahagiaan, keamanan, keberuntungan dan keridhaan.،
Mereka itulah pewaris para nabi, pemimpin orang-orang yang bertakwa dan manusia pilihan Tuhan semesta alam, dari kalangan kaum mukminin yang mantap ilmunya dan yang mendalami hakikat iman, itqan dan ihsan, yang memahami rahasia-rahasia Allah di dalam kerajaan langit dan bumi-Nya melalui jalan kasyaf dan `iyan.
Mereka berhasil mendapatkan kebajikan ini dan berhasil sampai ke derajat ini tidak lain adalah karena mereka telah mengikuti dengan baik dan sempurna jejak pemimpin umat, yang telah diutus Allah kepada seluruh makhluk, manusia dan jin, dengan membawa rahmat, yaitu hamba Allah, utusan Allah, kekasih Allah dan sahabat Allah, Sayyidina Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Semoga salawat dan salam dari Allah senantiasa tercurah kepada Beliau, keluarga Beliau dan para sahabat Beliau di setiap waktu dan saat, yang berkekalan sebagaimana kekal-Nya Allah, Maharaja yang Mahakuasa.
Amma ba’du, hamba yang fakir, yang mengaku akan kekurangan dan kelalaian, yang berharap akan ampunan Tuhannya YangKuasa, Syarif Abdullah bin Alwi Alhaddad Alhusaini, semoga Allah memaafkan dia dan seluruh pendahulunya, amin, berkata: “Ini adalah risalah yang tersusun berkat pertolongan dan kekuatan Allah, dan sebuah wasiat yang dengan kemurahan dan rahmat Allah, In sha Allah bermanfaat. Saya terdorong menyusun karena melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, dank arena keinginan untuk memperoleh janji yang benar (Al wa’dush Shaadiqu) yang dijanjikan bagi mereka yang menyeru kepada jalan kebaikan dan menyebarkan ilmu. Sebagaimana firman Allah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Allah Swt. Juga berifrman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Di ayat lain, Allah berfirman kepada Nabi-Nya: “Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf: 108)
Rasulullah saw. Bersabda: “Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Berapa banyak orang yang hafal fiqih masih membutuhkan kepada orang yang lebih faqih darinya, dan berapa banyak orang yang hafal fiqih tetapi bukan faqih.”
Rasulullah saw. Bersabda: “Siapa yang mengajak kepada (kebenaran), maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya, tidak berkurang sedikitpun. Dan siapa yang mengajak kepada kesesatan (kemaksiatan), ia pun akan memperoleh dosa seperti dosa orang yang mengerjakan kesesatan itu, tidak akan berkurang sedikitpun.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah)
Dalam sabda Rasulullah yang lain: “Apabila anak adam (manusia) meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga hal yaitu: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, serat (3) anak yang saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)
Sabda beliau, “Orang yang paling dermawan setelah aku ialah orang yang berilmu kemudian menyebar ilmunya. Dan kelak di hari kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan yang sempurna.”
Beliau juga besabda:. “Semua makhluk bahkan ikan di lautan pun senantiasa memohonkan ampun bagi yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
Beliau juga bersabda: “Semua makhluk menjadi tanggungan Allah. Dan orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada tanggungan-Nya. Tak seorangpun mampu memberikan manfaat kepada makhluk-Nya seperti menyeru mereka ke pintu Allah, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka sesuatu yang wajib bagi-Nya yang berkaitan dengan ketauhidan dan ketaatan kepada-Nya, mengingatkan mereka akan kekuasaan-Nya, memberi kabar gembira kepada mereka akan rahmat-Nya serta memberi peringatan kepada mereka terhadap murka-Nya yang selalu menimpa orang-orang yang berpaling dari-Nya, yairu orang-orang yang kafir dan fasik.”
Yang mendorong saya untuk melaksanakan perintah agung ini dan yang memperkuat keinginan saya untuk berusaha meraih janji yang mulia, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat dan hadist-hadist yang telah saya sebutkan di atas, dan lainnya semakna, yang tidak sempat saya sebutkan di sini, adalah permintaan dari sebagian sadah, sahabat dalam satu kehendak, yang menempuh jalan kebahagiaan, yang telah meminta saya agar menuliskan untuknya sebuah risalah berupa wasiat yang dapat diambil manfaat olehnya.
Maka saya pun mengabulkan permintaannya itu, karena ingin melaksanakan perintah dan meraih pahala, seperti yang saya telah sebutkan di atas tadi. Dan semoga Allah menolong saya dan memenuhi hajat-hajat saya, sesuai dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengenai ganjaran orang yang memenuhi hajat orang lain, dalam sabdanya:
“Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah pun akan memenuhi kebutuhannya.”
“Allah pasti akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”
Saya memohon ampun kepada Allah. Sebenarnya saya tidak hendak mengatakan bahwa dorongan saya menyusun risalah ini semata-mata karena tujuan-tujuan keagamaan yang baik. Sebab saya tahu, masih adanya keinginan-keinginan tersembunyi, nafsu yang merajalela, dan cinta dunia di dalam hati saya.
Dan saya tidak membebaskan diri saya dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan nafsu tiu adalah musuh, sedangkan musuh tidak memberi rasa aman. Bahkan ia adalah musush yang paling berbahaya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :
“Musuh yang paling berbahaya adalah hawa nafsu, yang berada di antara kedua lambungmu.”
Kata penyair: Kenali betul nafsumu, jangan kau merasa aman dari tipu dayanya karena hawa nafsu itu lebih jahat dari tujuh puluh setan.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, dari perbuatan syirik yang aku ketahui dan aku mohon ampunan-Mu dari syirik yang tak kuketahui.
Pada setiap pasal buku ini, selalu saya mulai dengan kalimat wa alaika (Hendaklah Anda…), tujuannya adalah pertama untuk mengajak diri saya sendiri dan saudara saya yang menjadi sebab disusunnya risalah ini, dan kedua untuk seluruh kaum muslimin yang membaca buku ini. Kalimat ini memiliki pengaruh yang kuat di dalam hati orang yang ingin diajak bicara. In sha Allah, dengan kalimat itu saya akan selamat dari celaan dan ancaman yang ditunjukkan kepada orang yang hanya bisa berkata, tetapi tak mampu membuktikan perkataannya, dan kepada orang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkannya.
Kalimat itulah yang menunjukkan bahwa saya belum mampu mengamalkan nasihat itu sepenuhnya, tetapi saya senantiasa berusaha mendorong diri untuk mengamalkannya.
Dengan demikian akan lenyaplah kesamaran dari kaum mukminin dan kelalaian terhadap diri seperti keadaan orang tak berakal yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Rasulullah saw. juga mengancam orang-orang yang hanya mampu memberi nasihat, tetapi tidak mengamalkan, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :
“Orang yang berilmu diperintahkan masuk ke dalam neraka, lalu ususnya keluar dari perutnya, kemudian ia berputar-putar di dalam neraka laksana putaran keledai mengitari penggilingan.”
Kemudian penduduk neraka bertanya, “Ada apa dengan orang jahat itu, ia telah menambah penderitaan kami?”
Malaikat menjawab, “Ia adalah orang yang memerintah pada kebajikan sedangkan ia sendiri tidak mengerjakannya, dan mencegah kejahatan sedangkan ia sendiri mengerjakannya.”(Al-Hadist)
Beliau juga bersabda:
Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, aku melewati beberapa orang yang digunting mulutnya, dengan gunting dari api neraka.” Kemudian aku bertanya, “Siapakah kamu?”, lalu mereka menjawab, “Kami adalah orang yang menyerukan kebajikan, sedangkan kami sendiri tidak mengerjakannya, dan kami melarang kejahatan tetapi kami sendiri masih mengerjakannya.”
Ancaman di atas khusus ditunjukan pada orang yang mengajak ke jalan Allah demi kepentingan belaka, yaitu mereka yang menganjurkan kebaikan, sedang mereka sendiri selalu meninggalkannya, melarang tindak kejahatan tapi tak mampu lepas darinya, karena tujuan mereka hanya mengejar ketenaran.
Lain halnya dengan mereka yang menyeru pada jalan Allah, serta selalu berinstrospeksi diri dan beribadah kepada Allah semaksimal mungkin, maka pintu sukses di dunia dan akhirat telah di depannya.
Bagaimanapun, orang yang berilmu tapi tidak beramal adalah lebih baik dan lebih terpuji daripada orang tak beramal dan tak berilmu.
Barangkali ada yang berkata, “Sudah banyak buku yang tersusun dengan berbagai uraian dan penjelasan yang akurat, maka tak ada gunanya lagi kita mengarang di jaman ini.”
Orang ini, sekalipun ia mungkin benar dalam perkataannya bahwa kitab sudah banyak, tetapi ia telah keliru mengatakan bahwa tidak ada gunanya lagi menyusun kitab pada masa kini. Karena sudah menjadi watak manusia yang cenderung pada hal-hal yang baru. Allah Swt.pun telah menganjurkan pada para ulama agar mampu beradaptasi terhadap masyarakat yang hidup pada zamannya.
Karya tulis dapat mencapai tempat-tempat yang jauh dan manfaatnya dapat selalu durasakan walaupun si penulis sudah wafat. Maka dengan karya tulisnya itu, ia memperoleh keutamaan sebagai seorang penyebar ilmu, dan akan dicatat di dalam kuburnya sebagai mualim yang meyneru ke jalan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam:
“Barang siapa mempergunakan lidahnya untuk menyampaikan kebenaran, dan kebenaran itu senantiasa diamalkan oleh orang lain sepeninggalnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang mengalir terus-menerus sampai hari kiamat.” (Al-Hadist)
KITAB ini saya beri nama “Risalatul Mu’awanati wal Muzhaharati wal Muaazarati”, untuk kaum muslimin yang ingin menempuh jalan akhirat.
Saya memohon kepada Allah agar KITAB ini dapat bermanfaat khususnya bagi diri saya sendiri dan seluruh kamu muslimin, semoga Allah memberikan keikhlasan dalam penulisan ini.
Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini radhiyallahu anhu.
===============================================
Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-1
1- BAB KEYAKINAN:
Wahai saudaraku, hendaklah Anda selalu memperkuat dan memperbaiki keyakinan Anda. Karena bila keyakianan itu sudah kokoh dan telah menguasai hatimu, maka segala sesuatu yang gaib tiba-tiba dapat terlihat dengan jelas seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib :
“Jika terbuka mata hatiku, makin bertambahlah keyakinanku.”
Keyakinan ialah ungkapan tentang kekuatan dan keteguhan iman yang sudah mendarah daging dan menyatu dalam hati, laksana sebuh gunung yang menjulang tinggi. Karena itu, segala bentuk keraguan dan praduga tak akan mampu menghempaskannya, hingga akhirnya keduanya hilang tanpa bekas.
Jika keraguan dan praduga itu datangnya dari luar, kedua telinganya tidak mau mengengarkannya sedangkan hati pun tidak mempedulikannya. Setan pun tak kuasa mendekati dan menggoda orang yang memiliki keyakinan seperti ini, bahkan ia lari ketakutan menyelamatkan diri darinya. Manusia yang memiliki ciri-ciri di atas ialah Umar bin Khattab, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَفْرَقُ مِنْ ظِلِّ عُمَرَوَمَاسَلَكَ عُمَرُفَجَّا إِلَّا سَلَكَ الشَّيْطَانُ فَجًّاآخَرَ.
“Setan takut terhadap bayangan Umar. Jika Umar menempuh suatu jalan, maka ia akan menempuh jalan lain.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Hibban dari Buraidah)
Sebab-sebab teguhnya keyakinan:
(1) Ini adalah yang pokok dan yang menjadi poros, yaitu memperlihatkan dengan hati dan memperdengarkan dengan telinga akan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang menunjukkan kebesaran Allah, kesempurnaan, keagungan dan kehebatan-Nya, serta kemanunggalan-Nya dalam mencipta, memerintah, menguasai dan memaksa. Dan yang menunjukkan kepada kebenaran para rasul dan kesempurnaan mereka, mukjizat-mukjizat yang mereka tunjukkan, azab yang menimpa orang-orang yang menentang mereka, serta berita-berita hari kiamat yang berhubungan dengan pahala yang disediakan bagi orang-orang yang baik dan hukuman bagi orang-orang yang jahat.
Hal ini mampu untuk meningkatkan keyakinan adalah didasarkan pada firman Allah Ta’ala :
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٥١﴾
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ankabut : 51)
(2) Memperhatikan segala ciptaan Allah yang indah dan menakjubkan, baik yang ada di langit maupun bumi. Firman Allah subhanahu wata'ala:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿٥٣﴾
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat : 53)
(3) Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala amalan dan tetap didasari iman dan takwa. Firman Allah Ta’ala :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69)
Buah Keyakinan:
Buah keyakinan yang dapat kita rasakan antara lain adalah kekuatan batin, ketenangan jiwa, perlindungan Allah subhanahu wata'alaa. Cita-cita untuk selalu taat kepada-Nya, serta upaya maksimal untuk mendapat ridha-Nya.
Ringkasnya, keyakinan merupakan pokok dari segala sesuatu. Sedangkan derajat yang luhur, budi pekerti yang terpuji dan amal saleh adalah cabang buahnya. Bahkan baik buruknya akhlak dan perilaku seseorang bergantung pada keyakinannya.
Luqman Hakim alaihissalam berkata :
“Aktivitas hanya dapat dilakukan dengan adanya keyakinan. Seseorang hanya dapat beraktivitas sesuai dengan kadar keyakinannya. Dan bila keyakinannya berkurang, berkurang pulalah aktivitasnya.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
اَلْيَقِيْنُ الْإِيْمَانُ كُلُّهُ.
“Keyakinan itu adalah iman seluruhnya.” (HR. Baihaqi)
Tingkat-tingkat Keyakinan Orang-orang yang Beriman:
[1] Ashabul Yamin
Yaitu orang-orang yang percaya dan kuat dalam iman, tapi pada saat-saat tertentu, jiwanya dapat diguncangkan oleh keraguan dan praduga.
[2] Al-Muqarrabin:
Yaitu orang-orang yang benar-benar kuat dalam berkeyakinan, mereka mampu menguasai hati mereka dengan bermodalkan keteguhan iman dan takwa. Segala bentuk keraguan dan praduga tak akan mampu mengganggu dan merusak imannya. Bahkan sesuatu yang gaib pun dapat terlihat dengan jelas. Tingkatan ini dinamakan Iman bil Yaqin.
[3] Tingkatan pada Nabi dan pewarisnya:
Pada tingkat tertinggi ini pun segala sesuatu yang gaib dan tersembunyi dapat terlihat dengan sangat jelas dan nyata. Tingkatan ini disebut Iman bil kasydi wal ‘iyan.
Perbedaaan antara pemilik masing-masing derajat itu sangat jauh sekali, ada yang utama dan ada yang belih utama. Itulah anugerah Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya. Hanya Allah-lah yang mempunyai anugerah yang besar.
==================
Refrensi:
كتاب رسالة المعاونة : ص - ١/٦
(وعليك) أيها الأخ الحبيب بتقوية يقينك وتحسينه، فإن اليقين إذا تمكن من القلب واستولى عليه صار الغيب كأنه شهادة، وعند ذلك يقول الموقن كما قال علي كرم الله وجهه: لو كشف الغطاء ما ازددت يقيناً.
واليقين عبارة عن قوة الإيمان وثباته ورسوخه حتى يصير كالطود الشامخ، لا تزلزله الشكوك، ولا تزعزعه الأوهام، بل لا يبقى للشكوك والأوهام وجود البتة. فإن جاءت من خارج لم تصغ إليها الأذن ولم يلتفت إليها القلب.
والشيطان لا يستطيع الدنو من صاحب هذا اليقين بل يفر منه ويفرق من ظله ويقنع بالسلامة، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن الشيطان ليفرَق من ظل عمر وما سلك عمر فجّاً إلا سلك الشيطان فجّاً آخر".
ويقوى اليقين ويحسن بأسباب:
منها- وهو الأصل والذي عليه المدار- أن يصغي العبد بقلبه وأذنه إلى استماع الآيات والأخبار الدالة على جلال الله تعالى وكماله وعظمته وكبريائه وانفراده بالخلق والأمر، والسلطان والقهر وعلى صدق الرسل وكمالهم وما أيدوا به من المعجزات وما حل بمعانديهم من أنواع العقوبات وما ورد في اليوم الآخر من إثابة المحسنين ومعاقبة المسيئين.
وإلى كون هذا الأمر كافياً في إفادة اليقين الإشارةُ يقوله تعالى: (أَوَ لم يكفِهِم أنا أنزلنا عليك الكتاب يُتلَى عليهم) الآية.
السبب الثاني أن ينظر بعين الاعتبار في ملكوت السماوات والأرض، وما بث الله فيهما من عجائب المصنوعات، وبدائع المكونات.
وإلى إفادته اليقين الإشارةُ بقوله تعالى: (سنريهم آياتِنا في الآفاق وفي أنفسهم حتى يتبيَّن لهم أنه الحق).
السبب الثالث أن يعمل على مقتضى ما آمن به ظاهراً وباطناً ويشمّر في ذلك ويبذل الاستطاعة فيما هنالك.
وإلى إفادته الإشارة بقوله تعالى: (والذين جاهدوا فينا لنهدينَّهم سُبلَنا).
ومن ثمرات اليقين السكون إلى وعد الله، والثقة بضمان الله، والإقبال بكنه الهمة على الله، وترك ما من شأنه أن يشغل عن الله تعالى، والرجوع في كل حال إلى الله واستفراغ الطاقة في ابتغاء مرضاة الله.
وعلى الجملة فاليقين أصل الإيمان وسائر المقامات الشريفة والأخلاق المحمودة والأعمال الصالحة من فروعه وثمراته، والأخلاق والأعمال تابعة لليقين قوة وضعفاً، وصحة وسقماً. قال لقمان عليه السلام لا يستطاع العمل إلا باليقين، ولا يعمل العبد إلا بقدر يقينه، ولا يُقصِّر عامل حتى ينقص يقينه، ولهذا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " اليقينُ الإيمان كله".
وأهل الإيمان في اليقين على ثلاث درجات:
الأولى _ وهي درجة أصحاب اليمين- التصديقُ الجازم مع إمكان التشكك والتزلزل لو جاء ما يقتضيه، ويعبر عنها بالإيمان.
☆☆☆☆☆☆☆
Risalatul Muawanah: karya al- Arif billah al-Imam Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad Al-husaini radhiyallahu anhu : 1/6
Kami mohon kerja sama anda bila menjumpai postingan yang bertentangan dengan mana-mana pihak atau artikel yang kami terapkan kurang berkenan dihati anda mohon dimaklumi, niat kami hanya ingin mengambil manfaat dan barokah nya. Ttd: Dakwah Islami Penyejuk Qalbu.
Kamis, 09 April 2020
003- Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
067-Kiat Meredam Amarah: Doc-1305
Masyruch El Basyirah 23 Februari 2017 pukul 2:09 Assalamu'alaikum MTTM. Mohon shar tentang cara menanggulangi amarah . Se...
-
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Kajian Kitab Riyadussholihiin Edisi-23 7 - Bab : Yakin Dan Tawakkal. 7 - باب اليقين ...
-
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi Ke-22 Berpegang Teguh Pada Al-Qur`an Dan Hadits. ...
-
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Kajian Kitab Risalatul Muawanah Edisi-9 Tentang Sholat Dhuha Bab-9 Shalat Dhuha: ...
2 komentar:
Semoga manfaat terimakasih ilmunya...
Sama"
Posting Komentar